POM Bensin Pengisi Kemerdekaan

Habis Drama Politik Kampus, Terbitlah Abdimas


Reka, Ketua Pemilu Mahasiswa, beserta panitia lain sedang bersiap untuk pemilihan calon Ketua BEM di Universitas Sutasoma. Adapun calon yang terdaftar sebanyak 6 orang dengan berbagai pengalaman Bahkan, adapula yang pernah berorasi di depan gedung parlemen.

Masa kampanye berjalan lancar, baik secara online  maupun offline. Hingga suatu ketika, terdapat indikasi yang tidak mengenakan.

“Bang, sini,” ujar Richard yang merupakan salah satu kandidat.

“Iya, ada apa?” jawab Aji, salah satu panitia pemilu.

“Lu kan panitia, jadi tolong menangin gua, ya. Lagipula, gua kan satu jurusan sama lu,” lanjut kandidat bernomor urut 1 itu.

“Beres, tapi semua itu nggak gratis, Bang. Gua perlu rokok sama kopi biar makin semangat,” ujar Aji.

Akhirnya, uang pun diterima Aji.

 Melihat ada yang tidak beres, Saka, sekretaris pemilu, menegur Aji.

“Ji, lu habis ngapain? Jangan sampai gua laporkan ke Reka, ya,” ujar Saka.

“Nggak, kok. Tadi habis ketemu teman lama,” jawab Aji.

“Oke, alasan lu gua terima. Tapi, gua bakal terus mengawasi lu,” ujar Saka.

“Ya, udah. Terserah,” jawab Aji dengan nada kesal.

Aji pun  berlalu. Saka masih merasa janggal dengan jawaban Aji karena melihat tangannya yang gemetar. Meskipun demikian, ia abaikan rasa curiga itu karena ingin lebih fokus terhadap pemilu.

 Hari pemilihan pun tiba. Semua calon dan para simpatisannya duduk di tempat pemilihan. Semua berjalan normal. Hingga tibalah saat penghitungan suara.

“Bagaimana mungkin pemerolehan suara Richard unggul jauh dibanding suara saya?” ujar Ali, sang kandidat bernomor urut 2.

“Saya juga bingung mengapa itu bisa terjadi,” tanya Ratih, sang kandidat nomor 3.

“Tenang, saudara-saudara. Kemenangan ini lumrah. Bisa saja, Richard dianggap lebih kompeten sehingga menang telak,” jawab Reka, sang ketua pemilu.

“Tapi, saya merasa heran dengan hasil tersebut. Richard dikenal sebagai pribadi yang pemalas, emosional, dan pelit. Masa orang macam dia bisa menang?” ujar Ratih.

“Setuju!” ujar Ali.

“Hei, jaga mulut kalian! Kalian berkata tidak sesuai dengan fakta,” bentak Richard.

“Memang kenyataannya seperti itu,” balas Ratih.

Melihat situasi yang kian memanas, Reka mencoba menenangkan suasana.

“Semua harap diam! Beri waktu kami untuk membicarakan hal ini,” ujar Reka.

Para panitia pemilu berdiskusi. Reka mulai melontarkan pertanyaan kepada para bawahannya terkait penyebab kemenangan telak Richard. Hingga Saka pun buka suara.

“Gua tau penyebabnya,” kata Saka.

Ia jelaskan kejadian saat bertemu Aji meski sebagian berdasarkan prasangka buruknya. Supaya semakin jelas, Reka bertanya kepada Aji.

“Lu tau penyebabnya, Ji?” tanya Reka.

Merasa terdesak, dia membuka mulutnya.

“I…iya, jadi waktu itu, gua ketemu Richard di warkop deket kampus. Nah, dia minta tolong ke gua buat memenangkan dia. Trus, gua terima asal ada upahnya. Abis itu, dia kasih upah ke gua,” jawab Aji.

Mendengar jawaban Aji, Reka marah dan langsung memberhentikan Aji.

“Saudara-saudara, kami sudah tahu penyebabnya. Ternyata, ada panitia pemilu yang memihak kepada Richard. Dia diberikan sejumlah upah untuk kemenangan calon nomor urut 1. Oleh karena itu, kami memecat dia,” kata Reka.

“Lantas, bagaimana dengan Richard?” tanya salah satu hadirin.

“Richard tetap sah menjadi calon Ketua BEM,” jawab Reka.

“Wah, tidak bisa begitu. Seharusnya, dia juga dihukum,” balasnya.

Tiba-tiba, Arya, sang Ketua Senat Tinggi, naik ke atas panggung.

“Terhitung mulai hari ini, saudari Reka saya berhentikan,” ujar Arya.

“Bung, nggak bisa begitu. Pemilu bisa berantakan kalau tanpa saya,” balas Reka.

“Saya tidak peduli, pemilu akan kami ambil alih,” jawab Arya.

Suasana menjadi tegang karena para hadirin tidak terima dengan keputusan Arya. Akibatnya, terjadilah baku hantam. Kursi-kursi rusak akibat pertikaian ini. Konflik ini membuat beberapa orang mengalami luka ringan.

“Woi, sudah. Permasalahan ini akan kita selesaikan melalui rapat,” kata Bimo, Ketua DPM.

Konflik pun mereda. Semua hadirin bubar.

Esoknya, rapat diadakan di Sekretariat Senat Tinggi, namun sebagian anggota tidak hadir karena membantu korban musibah. Hasilnya, rapat pun tidak membuahkan hasil.

Rapat kedua dimulai dua hari kemudian. Anggota rapat semakin berkurang dengan hasil rapat yang tetap buntu. Pada rapat berikutnya, anggota kian berkurang dan hasilnya tetap nihil.

“Bantu korban musibah kok sampai berturut-turut, sih? Rapat akan tetap buntu kalau tanpa mereka,” kata Bimo.

“Saya juga tidak tahu,” jawab Reka.

Tiba-tiba, seseorang datang menghadap Bimo.

“Bung, saya lihat anak-anak buahmu lagi duduk di warkop sana bareng alumni,” kata Reza dengan tergesa-gesa.

“Loh, ngapain mereka di sana? Jangan sampai berbuat yang bukan-bukan,” kata Bimo dalam hati.

Bimo dan kawan-kawan mendatangi warkop dengan wajah kecewa.

“Pantes kalian tidak hadir rapat. Rupanya lagi curhat sama alumni,” ujar Bimo.

“Hei, mereka kelelahan habis jadi relawan. Jangan runtuhin mental mereka,” ujar Adit, salah satu alumni.

“Mereka curhat ke kalian, kan?” tanya Bimo lagi.

“Betul, mereka cerita bahwa ada masalah internal soal pemilu. Kami nggak memberi saran apapun kecuali satu : bawa atasan kalian lalu ajak diskusi besok di aula kampus,” balas Adit.

Merasa tertantang, Bimo terima ajakan itu.

Esoknya, diskusi dimulai. Terlihat Bimo dan para bawahannnya, para calon ketua BEM, dan para alumni. Bahkan, rektor pun hadir.

“Jadi, akar permasalahannya terjadi saat Richard hendak bertindak curang dan Aji mau membantunya. Melihat hal itu, Saka curiga dan bertanya kepada Aji. Tetapi, Aji malah berbohong. Saat hari pemilihan, Richard menang telak dan membuat kandidat lain curiga. Aji pun mengakui kesalahannya setelah saya interogasi. Aji dihukum, sementara Richard tidak,” jelas Reka.

“Mengapa Richard tidak dihukum?” tanya Aris, Ketua Ikatan Alumni Universitas Sutasoma.

“Dia tidak dihukum karena dianggap masih layak menjadi kandidat,” ucap Reka.

“Seharusnya, sebagai ketua pemilu, kamu bersikap demokratis. Siapapun pihak yang bersalah, harus dihukum. Demikian pula halnya dengan Richard. Dia seharusnya didiskualifikasi,” ujar Aris.

Reka pun terdiam mengingat kesalahannya yang berujung linangan air mata.

“Kalau boleh tahu, kenapa waktu itu sampai ricuh?” tanya Adit, salah satu alumni.

“Jadi, karena Reka diberhentikan dari posisinya oleh Arya, para hadirin tidak terima. Akibatnya, terjadi kericuhan,” jawab Bimo.

“Benar begitu?” tanya Adit kepada Arya.

“Iya, benar. Keputusan saya sebenarnya sah, tetapi waktunya saja yang tidak tepat,” jawab Arya.

Para alumni terdiam sejenak. Rektor belum mengucap satu kata pun.

“Saya teringat ketika menjadi ketua senat dulu. Ketika itu, saya juga membuat keputusan kontroversial dengan memecat Ketua BEM kampus saat itu karena lalai dalam menjalankan tugas. Akibatnya, demo pun terjadi karena dia memiliki kinerja yang bagus. Melihat desakan publik tersebut, saya pun membatalkan keputusan itu dan dia kembali memimpin BEM Universitas Sutasoma. Hikmahnya adalah hormati kemauan para warga kampus, terutama sesama mahasiswa. Meskipun keputusan kamu sudah sah, tetapi dalam demokrasi, suara mereka berhak dipertimbangkan oleh pemerintah dalam hal ini Ketua Senat Tinggi,” ujar Aris.

Bimo dan Arya terdiam. Mereka belum pernah mendengar cerita kepemimpinan Aris.

“Jadi, bagaimana?” tanya Aris.

“Oke, saya akan kembali angkat Reka sebagai ketua pemilu dan akan mengadakan pemilihan ulang,” jawab Arya.

Akhirnya, semua pihak bersalaman tanda masalah sudah selesai.

“Baik, karena masalah sudah selesai, saya harap tidak ada konflik lagi pada periode berikutnya. Daripada kalian berseteru hanya karena pemikiran individualis dan golongan, lebih baik fokus kepada pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi,  terutama pengabdian masyarakat,” kata sang Rektor Universitas Sutasoma.

“Siap, Pak,” jawab Bimo dan Arya.

Pemilihan ulang pun dilaksanakan dengan Richard yang sudah didiskualifikasi. Ratih keluar sebagai pemenang dengan perolehan suara yang berbeda tipis dengan Ali. Periode baru pun dimulai.

Pada perioide baru ini, pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi menjadi fokus utama, terutama program abdimas atau pengabdian masyarakat. Tawa dan senyum masyarakat pun tercipta sehingga emosi negatif yang tidak perlu bisa terkuras.

 

Sumber gambar : Pexels.com

Komentar