POM Bensin Pengisi Kemerdekaan



Tahun '45, diluncurkanlah "Merdeka".

Kata "merdeka" terasa masih belum penuh

bensinnya masih setengah liter

tenaganya masih angot-angotan

sehingga bisa mogok di jalan.


Kadang ketemu pula POM,

beragam isinya, beragam pula tenaganya.

Bahkan "Merdeka" melaju mulus

hingga kembali ketemu tanjakan.

Menanjak terus sampai "merdeka" kehausan.


Bensin diisi lagi, lalu gas lagi

begitu terus sampai kiamat tiba.

Untung POM tersedia meski jaraknya kadang bukan main.

Kalau tidak, "Merdeka" bisa hancur tidak laku.

Siapa yang mau berteman dengan kata yang tak bertenaga?


Untung saja, roda "Merdeka" itu bundar.

Kalau tidak, jalannya "Merdeka" bisa stagnan dalam waktu lama.

Bahkan, bisa saja bensin gampang dicuri meski jaraknya dekat.

Mereka gampang menyalip dengan roda bundarnya.

"Merdeka" semakin usang karena pencurian itu.


Banyak pula kata-kata lain yang berumur tak jauh beda.

Mereka melaju dengan cara masing-masing.

Tetapi "merdeka" punya caranya yang perlahan namun pasti

supaya orang yang dibonceng tetap nyaman hingga kiamat tiba.


Sumber gambar : Pixabay.com



Komentar