- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
| Taman Fathan Alesano Sumber : dokumen pribadi |
Aku senang ketika sepupuku berkunjung ke rumahku. Kakakku pun juga menyambutnya dengan sukacita. Sebagai bentuk sukacita kakakku mengajak ke Taman Fathan Alesano, salah satu tempat yang terasa masih asing.
Kunjungan dilakukan pada hari Minggu kemarin. Aku sendiri
berangkat bersama sepupuku menggunakan motor. Agar tidak tersesat, kakakku memberikan maps atau peta digital yang berisi letak dari tempat tersebut. Terlihat bahwa letak dari Taman Fathan Alesano berada di Jalan Pasir Pogor, Cijeruk, Kabupaten Bogor. Agar mudah mencapai tempat ini, aku tautkan link Google Maps-nya di bawah artikel ini.
Sekilas, letaknya di dalam maps terlihat mudah dijangkau karena jalannya yang tanpa rintangan. Anggapan itu pun terpatahkan. Tanjakan curam harus kami lalui untuk sampai ke Taman Fathan Alesano. Menurut warga sekitar, kondisi rem motor harus prima agar tidak terjadi kecelakaan. Karena tekad yang bulat, sepupuku melajukan motornya dan berhasil menaiki tanjakan tersebut.
Tak cukup dengan tanjakan, rintangan berikutnya adalah jalan yang berbatu. Ratusan atau ribuan kerikil berserakan dan berpotensi merusak ban motor. Oleh karena itu, sepupuku harus melaluinya secara perlahan dan berhati-hati. Berbekal tekad yang kuat, dia pun sukses melalui rintangan ini.
Akhirnya, sampailah kami di tujuan. Kami dimintai uang parkir oleh seorang penjaga parkir. Harganya cukup 5 ribu rupiah dan bisa parkir tanpa dibatasi waktu. Menurutku, harga yang dipasang termasuk mahal karena biaya parkir umumnya berkisar 2 ribu rupiah.
Harga biaya parkir yang cenderung mahal ternyata berbanding terbalik dengan biaya tiket masuk. Hal itu karena biaya tiketnya cukup 5 ribu rupiah per orang. Suatu harga yang tergolong murah untuk tempat wisata yang berkonsep modern.
Aku dan sepupuku berhasil memasuki Taman Fathan dengan sukacita. Tempat ini terlihat menarik karena berkonsep outdoor dengan nuansa kekinian. Kami langsung mencari tempat di mana kakakku dan keluarga kecilnya berada. Akhirnya, kami berhasil menemukan mereka di area restoran.
Setelah bertemu dengan mereka, aku dan sepupuku langsung memesan makanan dan minuman. Makanan yang kami pesan adalah nasi plus ayam geprek sedangkan minumannya adalah es kopi dan air mineral. Kami menulis pesanan di sebuah kertas kecil lengkap dengan namaku. Awalnya aku tidak tahu mengapa namaku tertulis.
Rupanya, nama itu berguna saat beberapa menit kemudian. Ketika pesanan kami sudah siap, seorang pegawai restoran akan memanggil nama si pemesan agar pesanannya segera diambil. Bahkan, pemanggilan tersebut juga menggunakan mikrofon. Menurutku, cara pemanggilan inilah yang menjadi keunikan dari Taman Fathan Alesano.
Pemanggilan dengan mikrofon rupanya bukan tanpa alasan. Konsep Taman Fathan yang merupakan taman terbuka yang cukup luas membuat cara tersebut diterapkan. Kalau tidak ada pemanggilan melalui mikrofon, mungkin si pegawai akan berusaha menjemput si pemesan dan itu akan membuang waktu si pegawai ketika bekerja.
Ketika namaku dipanggil, aku langsung mengambil pesananku. Tak lupa, aku mengajak sepupuku untuk menyantap pesanan tersebut. Rupanya, ayam yang kupesan ternyata dilapisi oleh tepung yang sama dengan tahu isi. Hal itu membuat ayam ini berbeda dengan ayam geprek pada umumnya yang berlapis tepung renyah. Walaupun demikian, rasanya tetap nikmat.
Selain makanan, minumannya pun masih enak ketika diminum. Kopinya cukup nikmat walau sudah tercampur dengan air dan es batu. Malah, minuman ini lebih segar dibanding kopi versi hangat.
Terkait harga, makanan dan minuman yang kami pesan masih tergolong murah. Nasi dan ayam geprek dihargai 20 ribu rupiah sedangkan es kopi dan air mineral masing-masing dihargai 5 ribu rupiah. Tak hanya pesanan kami, makanan dan minuman lainnya juga tidak kalah murah, yakni rentang 5 ribu sampai 30 ribu rupiah.
Setelah makan, aku dan sepupuku meluncur ke spot-spot foto yang ada di Taman Fathan Alesano. Spot-spot foto yang kumaksud adalah jalan setapak dari kayu yang sengaja dibuat untuk melihat pemandangan indah khas dataran tinggi. Sejatinya, jalan ini merupakan jembatan yang di bawahnya terdapat lereng bukit.
Ternyata, spot-spot foto tersebut berada di bawah restoran. Taman Fathan dirancang dengan mengikuti kontur bukit yang miring sehingga area tempat ini cenderung vertikal atau naik turun. Jadi, harus diawasi langkah kakinya ketika menaiki dan menuruni tangga.
Selain terdapat spot-spot foto, tempat ini juga terdapat hewan-hewan seperti kuda, sapi, iguana, monyet, kalkun, serta burung. Tentu saja hewan-hewan tersebut dapat menambah daya tarik bagi orang tua yang mengajak anak-anaknya.
Menurutku, hal menarik lainnya dari Taman Fathan Alesano
adalah meja makannya yang merupakan meja jahit bekas. Aku tidak tahu apa maksud
dari pemasangan meja jahit ini, tetapi keunikan meja tersebut bisa pula menjadi
nilai tambah untuk mempromosikan taman ini.
Kegiatan berfoto dan berjalan mengelilingi taman dapat
terhenti ketika hujan turun. Para pengunjung pasti akan berteduh di dalam
bangunan restoran. Hal itu menyebabkan terjadinya kerumunan yang seharusnya
tidak boleh terjadi saat pandemi belum usai.
| Berteduh di bangunan restoran Sumber : Dokumen pribadi |
Untuk mengusir kejenuhan ketika berteduh, kubuka media sosial lewat ponselku. Ternyata, tidak ada sinyal di tempat ini. Menurutku, tidak adanya sinyal terbilang wajar karena Taman Fathan berada di dataran tinggi. Tak hanya taman ini, rumahku yang juga berada di dataran tinggi pun mengalami keterbatasan sinyal.
Hal lain yang kusesalkan adalah tidak adanya jaringan WiFi. Aku
tidak menemukan jaringan WiFi milik Taman Fathan Alesano. Padahal, fasilitas
internet nirkabel ini penting bagi pengunjung agar tetap dapat berkomunikasi ketika
tidak ada sinyal. Selain itu, WiFi juga dapat menambah nilai plus agar dapat
menambah daya tarik dari tempat ini.
Setelah hujan mereda, beberapa pengunjung kembali ke luar
dan berfoto. Namun lain halnya dengan aku dan keluargaku. Kami justru langsung
pulang karena keponakanku sudah tidak betah. Kami pun bersiap untuk memulai perjalanan
menuju rumah.
Perjalanan ini bukanlah tanpa halangan. Kami harus kembali
bertemu dengan jalan berbatu dan turunan atau tanjakan curam. Jalan berbatu masih bisa dilalui dengan
baik. Lain halnya dengan turunan curam. Menurut penuturan warga setempat,
turunan tersebut sudah memakan korban jiwa akibat kondisi rem blong.
Pada akhirnya, kami pun berhasil melewati turunan maut
tersebut. Hal ini berkat siraman air agar rem semakin pakem sehingga laju motor kami bisa dikendalikan.
Pada intinya, Taman Fathan Alesano merupakan tempat yang
cocok untuk dikunjungi oleh siapapun terlepas dari kekurangan yang dimiliki
tempat ini. Meskipun demikian, kondisi kendaraan harus diperhatikan dengan baik
agar tidak terjadi kecelakaan.
Link lokasi Taman Fathan Alesano :
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
kereennn
BalasHapusTerima kasih 🙏
Hapusmain ke taman apalagi banyak pohonnya bikin adem
BalasHapusSetuju, kapan-kapan main yuk ke Bogor.
Hapus