POM Bensin Pengisi Kemerdekaan

Antara Kartu Remi, Daya Pikir, dan Agamaku

Sumber : Pixabay.com

Pada malam tahun baru kemarin, aku bermain kartu remi bersama teman-temanku. Kupasang strategi yang tepat agar aku menang. Hasilnya, aku pun menang berkali-kali berkat kecerdikanku. Kemenanganku dalam bermain kartu membuatku bangga.

Di sisi lain, aku agak risih jika disamakan dengan pemain judi yang selalu menang. Temanku berkata bahwa aku bisa langsung kaya karena kemenangan beruntun tersebut. Kartu memang identik dengan permainan judi yang hukumnya haram menurut Islam. Meski begitu, bukankah permainan kartu bisa dimainkan tanpa uang?

Setelah kuriset, hukum permainan ini tetap haram meski tanpa uang. Alasannya adalah kartu remu dapat melalaikan hal-hal yang wajib seperti sholat. Selain itu, alasan lainnya adalah menjadi penyebab dari perilaku-perilaku buruk seperti keluarnya kata-kata kotor serta cacian.

Aku merasa terpukul dengan fatwa tersebut. Bibirku langsung mengucap istighfar atas perbuatanku. Kuakui bahwa permainan ini bisa memancing keluarnya kata-kata kotor dan cacian. Hal itu terjadi pada teman-temanku ketika merasa kesal saat bermain. 

Meskipun demikian, aku masih bisa menunaikan sholat Subuh setelah bermain kartu remi pada malam harinya. Kejadian itu terjadi saat aku masih SMA. Berdasarkan kejadian tersebut, aku berpikir bahwa permainan ini masih dibolehkan karena tidak melalaikan hal-hal wajib.

Kejadian di atas seolah ingin membuktikan bahwa fatwa haram permainan kartu remi tidak sepenuhnya tepat. Mungkin fatwa tersebut berlaku pada waktu tertentu karena kekuatan iman seseorang cenderung naik turun. Jika iman seseorang sedang naik, maka fatwa haram tersebut menjadi tidak tepat. Jika iman turun, maka fatwanya menjadi tepat. Aku sendiri masih memiliki iman yang labil sehingga bisa saja fatwa haram bermain kartu menjadi tepat ketika imanku turun.

Berdasarkan paragraf sebelumnya, pasti ada yang bertanya, "Mengapa orang yang keimanannya kuat mau bermain kartu remi? Bukankah dia seharusnya memilih kegiatan lain yang lebih bermanfaat?" Pertanyaan ini memiliki jawaban subjektif karena karakter setiap orang tidak bisa disamaratakan. Menurutku, orang beriman tersebut ikut bermain kartu karena ajakan dari temannya dan dia menerimanya dengan niat mempererat silaturahmi. 

Walaupun ikut bermain, dia masih bisa mengontrol dirinya dengan baik sehingga dapat menjalankan ibadah. Lagipula, permainan tersebut bisa saja jarang dimainkan sehingga tidak mengganggu keimanannya.

Selain terkait fatwa haram kartu remi, aku juga ingin mengulas terkait manfaat dari permainan ini. Berdasarkan pengalamanku, kemampuan berpikirku terasah ketika bermain kartu remi. Keberuntungan memang kuraih saat kartu hasil kocokan telah dibagikan. Walaupun demikian, strategi tetap kupasang agar dapat memenangkan permainan. Strategi dirancang karena bisa saja aku kalah walaupun kartu-kartuku bagus. 

Rupanya, pengalamanku telah tertulis di beberapa artikel. Artikel-artikel tersebut menuliskan bahwa permainan kartu remi mampu melatih kemampuan berpikir karena perlu memikirkan strategi yang matang untuk menang. Tautan dari beberapa artikel tersebut telah kucantumkan di bagian referensi tulisan ini.

 Tulisan ini hanya opini berdasarkan pengalaman dan pemikiranku. Jika ada yang tidak sependapat, boleh berkomentar dengan cara yang elegan.


Referensi :

Anda Gemar Main Kartu Remi atau Domino? Simak Penjelasan Ini

Hukum Bermain Kartu Remi 

Bolehkah Main Catur, Domino atau Kartu Remi?

Selain Menyenangkan, Inilah Manfaat Luar Biasa dari Permainan Kartu Bridge

Ragam Manfaat Bermain Kartu Bagi Kehidupan Sehari-hari

Meski 'Hanya' Duduk-duduk, Nyatanya Permainan Kartu Bridge Janjikan Manfaat Kesehatan yang Menakjubkan



Komentar

  1. kalau aku sih selama main kartu hanya untuk just fun, buat refreshing mah tak apa apalagi perlu startegi yang membuat kita melatih kecepatan berpikir, tapi kalau berlebihan ,lupa waktu dan pakai uang itu yang gak baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, saya juga jarang main kartu. Itu pun klo ketemu temen lama aja.

      Hapus

Posting Komentar