- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
![]() |
Sumber : Dokumen pribadi |
Pagi ini, aku tampil beda. Kukenakan kembali batik lamaku.
Tak hanya itu, aku juga memakai celana jeans
yang belum pernah kupakai sebelumnya. Pakaian ini kukenakan karena aku didapuk
menjadi panitia Pemilihan Ketua RT di lingkungan rumahku.
Ketika aku sudah siap, kulangkahkan kaki menuju lokasi.
Sesampainya di sana, terlihat para bapak sedang berdiskusi. Sebagian sambil
menghisap rokok. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Menurutku, mereka
membahas soal birokrasi di lingkup desa.
Setelahnya, aku dan panitia lainnya di-briefing
sebentar oleh Ketua Pelaksana Pemilihan Ketua RT. Lalu, aku pun siap
"berdinas". Aku bertugas membagikan kertas suara kepada para pemilih.
Terlihat receh memang, tetapi tetap kujalankan sebagai bentuk kontribusi meski
tanpa bayaran.
Di balik kertas suara, calon yang terdaftar hanya 2 orang,
yakni M dan D. Menurutku, itu lebih baik ketimbang satu calon melawan kotak
kosong. Jika hal itu terjadi, maka akan terjadi kemenangan mutlak karena pada
umumnya kotak kosong akan kalah dari si calon tunggal. Menurutku, itu tidak
adil dalam dunia politik.
Perlu diketahui, aku tinggal di RT 003 RW 06 Desa Tenjolaya,
Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Lingkungan RT-ku berada di dalam
perumahan yang tidak semua rumahnya berpenghuni. Oleh karenanya, dalam
pemilihan ini, batas jumlah suara yang sudah dapat dihitung hanya 30 suara
dengan ketentuan satu suara mewakili satu rumah.
Pemilihan pun dimulai. Satu per satu warga berdatangan.
Tampaknya, demokrasi berjalan lancar di lingkup pemerintahan terkecil ini.
Setelah warga berdatangan, canda dan tawa turut mewarnai jalannya Pemilihan Ketua RT
ini. Hal ini tak terlepas dari karakter sang ketua pelaksana yang humoris
sehingga mampu menghidupkan suasana. Menurutku,
suasana seperti ini tidak biasa dalam pesta demokrasi. Oleh karenanya, aku
menjuluki pemilihan ini sebagai "The Little Democrazy".
Meski ada sukanya, bukan berarti tidak ada dukanya. Saat
pemilihan berlangsung, terdapat sejumlah pemilih yang tidak hadir. Ada yang sedang tidak berada di rumah, adapula
yang tidak mau ke luar rumah. Pada akhirnya, mereka yang tidak ada di rumah
ikut memilih dengan cara diwakilkan. Untuk mereka yang tidak mau ke luar rumah,
sang ketua memutuskan untuk menjemput ke rumah mereka.
Pemilihan pun berakhir. Total suara yang masuk sebanyak 34
suara. Sesi selanjutnya adalah penghitungan suara. Uniknya, penghitungan suara
ini disiarkan melalui panggilan video grup di Whatsapp. Suatu hal yang baru
bagiku.
Saat suara dihitung, sang ketua pelaksana masih saja
bercanda. Candaannya cenderung mirip pelawak di TV, tetapi masih bisa dikontrol.
Terkadang, dia juga salah dalam menandakan suara yang telah terhitung yang juga
menimbulkan gelak tawa. Meski begitu,
dia tetap profesional. Suara-suara itu tetap dihitungnya dengan benar.
Hasilnya, calon M memenangkan suara dengan akumulasi 25
suara, sedangkan calon D menyusul dengan
8 suara. Hanya ada satu suara yang tidak sah. Berdasarkan hasil tersebut, M
terpilih sebagai ketua RT yang baru. Suatu kemenangan yang wajar mengingat
lawannya yang jarang berada di rumah.
Acara ini pun diakhiri dengan makan bersama. Menunya pun
beraneka ragam, mulai dari perkedel, ikan tuna, hingga sayur daun labu. Lauk
yang terakhir ini baru saya jumpai. Menurut penuturan ketua RT yang baru, daun
labu itu dipetik dari kebun kecil di depan rumahnya.
Suasana terlihat hangat. Canda tawa tetap keluar di saat santai
seperti ini. Sepertinya, "The Little Democrazy" berakhir secara
halus.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar