POM Bensin Pengisi Kemerdekaan

The Little Democrazy

 

Sumber : Dokumen pribadi

Pagi ini, aku tampil beda. Kukenakan kembali batik lamaku. Tak hanya itu, aku juga memakai celana jeans yang belum pernah kupakai sebelumnya. Pakaian ini kukenakan karena aku didapuk menjadi panitia Pemilihan Ketua RT di lingkungan rumahku.

Ketika aku sudah siap, kulangkahkan kaki menuju lokasi. Sesampainya di sana, terlihat para bapak sedang berdiskusi. Sebagian sambil menghisap rokok. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Menurutku, mereka membahas soal birokrasi di lingkup desa.

Setelahnya, aku dan panitia lainnya di-briefing sebentar oleh Ketua Pelaksana Pemilihan Ketua RT. Lalu, aku pun siap "berdinas". Aku bertugas membagikan kertas suara kepada para pemilih. Terlihat receh memang, tetapi tetap kujalankan sebagai bentuk kontribusi meski tanpa bayaran.

Di balik kertas suara, calon yang terdaftar hanya 2 orang, yakni M dan D. Menurutku, itu lebih baik ketimbang satu calon melawan kotak kosong. Jika hal itu terjadi, maka akan terjadi kemenangan mutlak karena pada umumnya kotak kosong akan kalah dari si calon tunggal. Menurutku, itu tidak adil dalam dunia politik.

Perlu diketahui, aku tinggal di RT 003 RW 06 Desa Tenjolaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Lingkungan RT-ku berada di dalam perumahan yang tidak semua rumahnya berpenghuni. Oleh karenanya, dalam pemilihan ini, batas jumlah suara yang sudah dapat dihitung hanya 30 suara dengan ketentuan satu suara mewakili satu rumah.

Pemilihan pun dimulai. Satu per satu warga berdatangan. Tampaknya, demokrasi berjalan lancar di lingkup pemerintahan terkecil ini.

Setelah warga berdatangan, canda dan tawa  turut mewarnai jalannya Pemilihan Ketua RT ini. Hal ini tak terlepas dari karakter sang ketua pelaksana yang humoris sehingga mampu menghidupkan suasana.  Menurutku, suasana seperti ini tidak biasa dalam pesta demokrasi. Oleh karenanya, aku menjuluki pemilihan ini sebagai "The Little Democrazy".

Meski ada sukanya, bukan berarti tidak ada dukanya. Saat pemilihan berlangsung, terdapat sejumlah pemilih yang tidak hadir.  Ada yang sedang tidak berada di rumah, adapula yang tidak mau ke luar rumah. Pada akhirnya, mereka yang tidak ada di rumah ikut memilih dengan cara diwakilkan. Untuk mereka yang tidak mau ke luar rumah, sang ketua memutuskan untuk menjemput ke rumah mereka.

Pemilihan pun berakhir. Total suara yang masuk sebanyak 34 suara. Sesi selanjutnya adalah penghitungan suara. Uniknya, penghitungan suara ini disiarkan melalui panggilan video grup di Whatsapp. Suatu hal yang baru bagiku.

Saat suara dihitung, sang ketua pelaksana masih saja bercanda. Candaannya cenderung mirip pelawak di TV, tetapi masih bisa dikontrol. Terkadang, dia juga salah dalam menandakan suara yang telah terhitung yang juga menimbulkan gelak tawa.  Meski begitu, dia tetap profesional. Suara-suara itu tetap dihitungnya dengan benar.

Hasilnya, calon M memenangkan suara dengan akumulasi 25 suara, sedangkan calon D menyusul  dengan 8 suara. Hanya ada satu suara yang tidak sah. Berdasarkan hasil tersebut, M terpilih sebagai ketua RT yang baru. Suatu kemenangan yang wajar mengingat lawannya yang jarang berada di rumah.

Acara ini pun diakhiri dengan makan bersama. Menunya pun beraneka ragam, mulai dari perkedel, ikan tuna, hingga sayur daun labu. Lauk yang terakhir ini baru saya jumpai. Menurut penuturan ketua RT yang baru, daun labu itu dipetik dari kebun kecil di depan rumahnya.

Suasana terlihat hangat. Canda tawa tetap keluar di saat santai seperti ini. Sepertinya, "The Little Democrazy" berakhir secara halus.

Komentar