- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
![]() |
| Sumber gambar : Pexels.com |
Suatu kesempatan yang menyenangkan. Hari ini, aku
bisa berangkat ke kota. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan teman-temanku.
Perjalanan berlangsung selama dua jam. Tetapi,
terasa menyenangkan karena ditemani oleh pemandangan alam nan indah.
Aku pun sampai di tujuan. Lalu, kulangkahkan kaki
menuju rumah saudara yang kukenal.
“Wei, Alfi. Apa kabar?” tanya saudaraku.
“Baik, Bang,” jawabku.
“Yuk, masuk,” balasnya.
Aku merasa prihatin dengan keadaan saudaraku ini.
Ruang depannya terllihat cukup berantakan. Gelas-gelas ada di beberapa sudut
ruangan. Barang-barang lainnya tersusun secara tidak karuan.
“Lu heran sama rumah gua yang berantakan? Yah,
begitulah. Gua nggak mampu buat beli rumah yang luas. Jadilah gua tinggal di
sini. Tapi, gua senang karena masih bisa bertahan hidup dan anak-anak gua masih
bisa sekolah,” kata Bang Riko sembari tersennyum kepadaku.
“Iya, Bang. Lu orang hebat. Masih bisa senang walau
terlihat punya kekurangan di luar,” balasku sembari membalas senyumannya.
Aku menginap di rumah Bang Riko karena lebih dekat
dengan base camp tempat teman-temanku
berkumpul. Rencananya, aku akan bertemu mereka pada esok harinya.
Esoknya, aku berkemas untuk bertemu dengan
teman-temanku. Sebagian barang milikku ditinggalkan di rumah Bang Riko.
“Lu mau ke mana?” tanya Bang Riko.
“Gua mau main, Bang,” jawabku.
“Ya, udah. Hati-hati, ya.”
Dengan barang bawaan yang sedikit, aku pun
berangkat. Namun, aku kecewa karena tidak ada seorang pun di base camp. Kupikir, aku datang di saat
yang tidak tepat.
Akhirnya, kuputuskan untuk singgah ke rumah salah
satu temanku yang bernama Bagas. Letaknya tidak jauh dari base camp.
Setelah sampai, seorang berwajah cerah menyambutku.
“Halo, bro. Gua udah lama nunggu kedatangan lu,”
ujar Bagas.
“Makasih, bro,” balasku.
Aku pun disuguhkan air putih oleh Bagas. Kuakui, aku
sudah lama tidak bertemu dengan sahabatku ini. Namun, kali ini aku prihatin
dengan keadaannya.
“Lu pasti heran kenapa gua pakai alat bantu dengar
ini. Ini berawal saat gua sedang membetulkan perabotan di rumah ini. Lalu, gua
tersetrum terus pingsan. Saat sudah sadar, gua heran dengan telinga gua yang
tiba-tiba nggak bisa mendengar apapun. Bahkan, gua pun sempat ditampar sama
ayah gua karena mungkin respon gua beda dengan yang beliau ucapkan. Akhirnya,
gua pun dipasangkan alat ini,” kata Bagas.
Mendengar semua ceritanya, hampir saja air mataku
menetes.
“Tapi, gua tetap bersemangat dalam menjalani hidup.
Buktinya, gua masih bisa kuliah sampai selesai,” lanjut Bagas sambil
menunjukkan ijazah S1-nya.
Hatiku kembali tertunduk mendengar ceritanya. Berkat
dia, energi rasa syukurku kembali bangkit.
“Ya, udah. Lu boleh main dulu di sini. Lama juga
boleh. Gua mah bebas orangnya,” ujarnya sembari tersenyum.
“Makasih, bro. Lu udah perhatian sama gua,” balasku.
“Sama-sama. Itulah gunanya teman,” kata Bagas
sembari merangkul pundakku.
Aku pun main dalam waktu yang cukup lama. Kondisi
rumahnya cukup baik karena memiliki ruangan yang luas meski barang-barangnya
agak berantakan. Meski dinding-dinding rumahnya sedikit keropos, namun masih
tangguh menahan air di kala hujan.
“Di luar masih hujan, jadi ayo duduk dulu sambil
ngeteh,” ujar Bagas.
Sejauh pengamatanku, Bagas terlihat hidup sebatang
kara. Tak ada seorang pun selain dia hingga malam ini tiba.
“Lu sendirian di sini?” tanyaku.
“Iya, nih. Orang tua gua kerja di luar kota.
Kakak-kakak gua udah pada berkeluarga. Jadilah gua sebatang kara di sini,” ujar
Bagas.
Mendengar hal itu, terbesitlah suatu ide di benakku.
“Gua nginep di sini, ya. Boleh, kan?”
“Wah, boleh banget,” balas Bagas dengan hati riang.
Aku pun diantarkan menuju sebuah kamar kosong di
lantai dua rumah ini. Kamarnya cukup nyaman meski terdapat sarang laba-laba di
sejumlah sudut ruangan.
Esok paginya, aku sarapan bersama Bagas. Menunya
sederhana, yakni nasi dengan lauk telur mata sapi dan saus. Tetapi, menurutku
ini sudah cukup mengenyangkan dan bergizi.
Selesai sarapan, aku langsung pamit kepada Bagas.
“Bro, makasih udah kasih pelayanan yang baik ke gua,”
ujarku.
“Justru harusnya gua yang bilang makasih ke lu.
Berkat lu, gua jadi ada teman mengobrol,” kata Bagas.
“Ah, bisa aja lu. Ya, udah. Gua cabut, ya.”
“Oke, hati-hati, bro,” balasnya dengan sedikit
senyuman.
Lalu, kunaiki sebuah angkot yang mengarah ke rumah
Bang Riko. Setelah sampai, aku disambut Bang Riko dengan wajah sedikit kecewa.
“Lu ke mana aja? Gua khawatirin lu, nih,” ujar Bang
Riko.
“Maaf, Bang. Kemarin gua abis main ke rumah teman
gua trus nginep di sana. Maaf karena gua
nggak sempet kabarin lu,” balasku.
“\Ya, udah. Nggak apa-apa. Itu masih ada makanan di
atas meja. Kalau lu mau mmakan, habisin aja.”
“Makasih, Bang.”
Bang Riko pun keluar rumah setelahnya.
Lalu, kumakan sebagian makanan yang ada di meja
makan. Makanan tersebut sengaja kusisakan sebab teringat dengan keluarga Bang
Riko.
“Kok makanannya nggak dihabisin,” ujar istri Bang
Riko.
“Nggak, Mba. Buat mba sama anak-anak aja,” ujarku.
“Oh, terima kasih, ya.”
Beberapa saat kemudian, Bang Riko datang . Namun,
dia datang dengan raut wajah yang sedih.
“Bu, sebentar lagi rumah kita mau digusur,” ujar
Bang Riko kepada istrinya.
“Kata siapa, Bang?”
“Tadi gua denger dari Pak RT.”
Bang Riko dan keluarganya pun larut dalam kesedihan.
Aku merasa semakin iba dengan keluarga ini. Seketika, jiwa kemanusiaanku pun
berkobar.
Kudatangi rumah Pak RT untuk meminta penjelasan
terkait rencana penggusuran ini. Jawabannya pun cukup mengejutkan.
“Rumah Pak Riko dan rumah-rumah lain di sekitarnya
hendak digusur karena lahannya ingin dialihfungsikan menjadi kompleks ruko. Ini
terpaksa kami lakukan karena pihak pengembang menjanjikan uang sebesar 2 miliar
untuk RT ini,” jelas Pak RT.
“Bapak ini gimana, sih? Masa lebih mementingkan uang
daripada rakyat bapak sendiri. Biarpun uang itu untuk kesejahteraan RT ini,
tetap saja nggak boleh bapak terima karena caranya yang mengorbankan rakyat
lainnya,” balasku dengan merasa agak marah.
“Tapi…”
“Sudah, nggak ada tapi-tapian! Sekarang saya minta
bapak batalkan proyek itu!” kemarahanku kian memuncak.
“Baik-baik, saya batalkan.”
Seketika, amarahku mereda mendengar hal itu. Kabar
ini pun segera kuberitahu kepada Bang Riko.
“Bang, kabar baik, nih. Rumah lu nggak jadi digusur,”
kataku dengan hati senang.
“Alhamdulillah,” ujar Bang Riko yang dilanjutkan
dengan sujud syukur. Keluarga Bang Riko pun bahagia kembali.
Akan tetapi, kebahagiaan itu seolah hanya menjadi
pemanis sesaat. Dua hari kemudian, segerombolan orang datang ke halaman rumah Bang
Riko.
“Ada apa ini?” tanya Bang Riko kepada segerombolan
orang tersebut.
“Maaf, Pak. Kami akan tetap menggusur rumah Pak Riko
dan rumah lainnya di sini,” ujar Pak RT.
“Loh, bukannya kemarin kita udah sepakat, Pak?”
tanyaku.
“Maaf, Mas. Saya sudah berusaha membujuk pihak
pengembangnya, tetapi tidak berhasil. Mereka ingin tetap menggusur rumah-rumah
ini,” jelas Pak RT dengan perasaan menyesal.
Seketika, keluarga Bang Riko pun bersedih.
“Tetapi, kalian tidak usah bersedih. Pihak pengembang
sudah menyediakan rumah baru untuk seluruh warga yang tinggal di sini,” lanjut
Pak RT.
Wajah keluarga Bang Riko pun berubah menjadi bahagia.
Setelah berkemas, aku bersama keluarga Bang
Riko diantar oleh pihak pengembang menuju rumah baru tersebut.
Sesampaiya di sana, aku terkesima dengan kondisi
rumahnya yang besar dan terlihat estetik.
“Alhamduliah,” ujar Bang Riko. Seluruh keluarganya
pun bersujud syukur. Kupikir, inilah ganjaran yang tepat untuk orang baik
seperti Bang Riko. Meski gagal bertemu dengan teman-temanku di base camp, aku telah menemukan makna kebahagiaan yang lebih baik dari sekedar nongkrong bersama teman.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar

Cerita dengan ending yang happy ya :). Pengennya semua cerita penggusuran bisa berakhir seperti ini :D
BalasHapusMakasih 🙏
HapusSiap
BalasHapus