- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ini adalah kisah tentang pengalaman psikologisku yang
mungkin kalian juga pernah mengalaminya.
Kisah ini dimulai di suatu hari. Udara sejuk merasuk ke
pori-pori kulitku. Mataku masih malas untuk dibuka. Namun akhirnya, terbukalah
mataku untuk suatu agenda penting.
Deru mobil berbunyi tanda siap dijalankan. Aku dan
keluargaku bersiap menuju suatu tempat wisata yang mungkin jarang dikunjungi.
Jarak dari rumahku ke tempat tersebut sekitar 20 kilometer.
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 15 menit, kami pun
sampai di tujuan. Tempat tersebut bernama Air Terjun Nyawer, air terjun ini
terletak di kaki Gunung Cikundung.
"Lu mau coba minum airnya, nggak? Seger, loh,"
ucap Asep, sepupuku.
"Boleh," jawabku.
Setelah kuminum, airnya terasa segar seperti air dingin dari
kulkas. Mungkin ini karena air tersebut sudah tercampur dengan embun dari kaki
Gunung Cikundung. Kata Asep, air di sini pun digunakan oleh beberapa perusahaan
air minum untuk pembuatan produk mereka.
Aku tak lupa untuk mengabadikan kunjungan ini dengan
berswafoto. Kupikir, momen-momen seperti ini sayang untuk dilewatkan.
Setelah berkunjung selama dua jam, kami pulang. Semua
keluargaku merasa puas dengan kunjungan ini, termasuk aku.
Beberapa hari kemudian, aku dan keluargaku kembali
mengunjungi Air Terjun Nyawer. Kami berpuas diri dengan menikmati keindahan air
terjun nan cantik tersebut. Setelah dua jam, kami pun pulang dengan rasa
senang.
"Alvin, kok lu keliatan cemberut gitu?" tanya Asep
kepadaku.
"Nggak apa-apa, kok." jawabku.
Itulah jawaban untuk menutupi rasa bosanku. Entah kenapa,
aku merasa bosan setelah berkunjung ke Curug Nyawer sebanyak dua kali.
Untuk menghilangkan rasa bosan tersebut, kulakukan kegiatan
lain seperti melakukan pekerjaan rumah, olahraga, dan menonton TV. Karena semua
kegiatan tersebut dilakukan di rumah, aku sempat disebut sebagai pengangguran.
"Kok lu di rumah melulu sih kayak pengangguran? Mending
ke luar, deh. Cari kerjaan," ujar tetanggaku.
"Gua nggak nganggur, kok. Lu liat dong gua lagi pegang
apa," ujarku dengan setengah emosi.
Saat itu, aku sedang memegang sapu lidi dan pengki untuk membersihkan halaman
rumahku.
Cibiran tersebut tak akan bisa mematahkan tekadku untuk
menghilangkan kebosananku. Mereka seharusnya tidak perlu mencampuri hidup orang
lain dan lebih baik urus hidup mereka sendiri.
Setelah 3 bulan berada di rumah, rasa bosan itupun
menghilang. Suatu ketika, timbul keinginan untuk kembali ke Curug Nyawer. Entah
kenapa keinginan tersebut bisa muncul. Mungkin ini diakibatkan oleh
menghilangnya rasa bosan dari dalam diriku dan digantikan oleh rasa senang.
Lalu, rasa senang tersebut menelusuri memori di dalam otakku hingga ke masa
lalu.
Karena keinginan tersebut, dimulailah perjalananku menuju
Curug Nyawer. Perjalanan ini kulakukan sendiri menggunakan sepeda motor.
Sesampainya di sana, aku langsung memuaskan hasratku dengan bekeliling di
sekitar curug.
Betapa senangnya hatiku saat berkunjung kembali ke sana. Hal
ini seolah perasaan bosanku sudah terhapus sempurna. Kuharap, hidupku akan
terus berwarna seperti ini.
Sumber gambar : Pexels.com
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar

Jenuh ya mas :). Sebelum pandemi aku rutin traveling kemana2. Jujur pernah sih ngerasa bosan. Apalagi kalo negara itu pernah bbrp kali dikunjungi, ATO memang ga banyak wisata yg sesuai hobiku di sana. Lgs ngerasa pengen cepet balik .
BalasHapusTp skr setelah ngerasain 1.5 THN di rumah trus ga bisa traveling, aku kangen jadinya. Kangen jelajah negara manapun, even yg membosankan juga gpp, yg penting bisa jalan2 lagi :D.
Iya, sempat merasa bosan. Tapi, lama kelamaan rasa bosan itu bakal hilang sendiri gara-gara udh melakukan kegaiatan lain trus abis itu pengen ke tempat yg menurutku membosankan itu.
BalasHapus