POM Bensin Pengisi Kemerdekaan

Bosan ke Tempat Indah

 


Ini adalah kisah tentang pengalaman psikologisku yang mungkin kalian juga pernah mengalaminya.

Kisah ini dimulai di suatu hari. Udara sejuk merasuk ke pori-pori kulitku. Mataku masih malas untuk dibuka. Namun akhirnya, terbukalah mataku untuk suatu agenda penting.

Deru mobil berbunyi tanda siap dijalankan. Aku dan keluargaku bersiap menuju suatu tempat wisata yang mungkin jarang dikunjungi. Jarak dari rumahku ke tempat tersebut sekitar 20 kilometer.

Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 15 menit, kami pun sampai di tujuan. Tempat tersebut bernama Air Terjun Nyawer, air terjun ini terletak di kaki Gunung Cikundung.

"Lu mau coba minum airnya, nggak? Seger, loh," ucap Asep, sepupuku.

"Boleh," jawabku.

Setelah kuminum, airnya terasa segar seperti air dingin dari kulkas. Mungkin ini karena air tersebut sudah tercampur dengan embun dari kaki Gunung Cikundung. Kata Asep, air di sini pun digunakan oleh beberapa perusahaan air minum untuk pembuatan produk mereka.

Aku tak lupa untuk mengabadikan kunjungan ini dengan berswafoto. Kupikir, momen-momen seperti ini sayang untuk dilewatkan.

Setelah berkunjung selama dua jam, kami pulang. Semua keluargaku merasa puas dengan kunjungan ini, termasuk aku.

Beberapa hari kemudian, aku dan keluargaku kembali mengunjungi Air Terjun Nyawer. Kami berpuas diri dengan menikmati keindahan air terjun nan cantik tersebut. Setelah dua jam, kami pun pulang dengan rasa senang.

"Alvin, kok lu keliatan cemberut gitu?" tanya Asep kepadaku.

"Nggak apa-apa, kok." jawabku.

Itulah jawaban untuk menutupi rasa bosanku. Entah kenapa, aku merasa bosan setelah berkunjung ke Curug Nyawer sebanyak dua kali.

Untuk menghilangkan rasa bosan tersebut, kulakukan kegiatan lain seperti melakukan pekerjaan rumah, olahraga, dan menonton TV. Karena semua kegiatan tersebut dilakukan di rumah, aku sempat disebut sebagai pengangguran.

"Kok lu di rumah melulu sih kayak pengangguran? Mending ke luar, deh. Cari kerjaan," ujar tetanggaku.

"Gua nggak nganggur, kok. Lu liat dong gua lagi pegang apa,"  ujarku dengan setengah emosi. Saat itu, aku sedang memegang sapu lidi dan pengki untuk membersihkan halaman rumahku.

Cibiran tersebut tak akan bisa mematahkan tekadku untuk menghilangkan kebosananku. Mereka seharusnya tidak perlu mencampuri hidup orang lain dan lebih baik urus hidup mereka sendiri.

Setelah 3 bulan berada di rumah, rasa bosan itupun menghilang. Suatu ketika, timbul keinginan untuk kembali ke Curug Nyawer. Entah kenapa keinginan tersebut bisa muncul. Mungkin ini diakibatkan oleh menghilangnya rasa bosan dari dalam diriku dan digantikan oleh rasa senang. Lalu, rasa senang tersebut menelusuri memori di dalam otakku hingga ke masa lalu.

Karena keinginan tersebut, dimulailah perjalananku menuju Curug Nyawer. Perjalanan ini kulakukan sendiri menggunakan sepeda motor. Sesampainya di sana, aku langsung memuaskan hasratku dengan bekeliling di sekitar curug.

Betapa senangnya hatiku saat berkunjung kembali ke sana. Hal ini seolah perasaan bosanku sudah terhapus sempurna. Kuharap, hidupku akan terus berwarna seperti ini.


Sumber gambar : Pexels.com

 

Komentar

  1. Jenuh ya mas :). Sebelum pandemi aku rutin traveling kemana2. Jujur pernah sih ngerasa bosan. Apalagi kalo negara itu pernah bbrp kali dikunjungi, ATO memang ga banyak wisata yg sesuai hobiku di sana. Lgs ngerasa pengen cepet balik .

    Tp skr setelah ngerasain 1.5 THN di rumah trus ga bisa traveling, aku kangen jadinya. Kangen jelajah negara manapun, even yg membosankan juga gpp, yg penting bisa jalan2 lagi :D.

    BalasHapus
  2. Iya, sempat merasa bosan. Tapi, lama kelamaan rasa bosan itu bakal hilang sendiri gara-gara udh melakukan kegaiatan lain trus abis itu pengen ke tempat yg menurutku membosankan itu.

    BalasHapus

Posting Komentar