- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
![]() |
| sumber gambar : Pexels.com |
“Lagi jalan-jalan nih bareng gebetan baru. Jiah…”
Betapa menyenangkannya perasaan dari si pembuat
status di atas. Namun, mereka tidak tahu bahwa status-status tersebut
bisa saja berdampak pada hidup mereka setelahnya.
Sebenarnya, memposting status di media sosial merupakan hal
yang wajar. Menurut data dari We Are Social dan Hootsuite, dari 4,5 miliar
pengguna internet di seluruh dunia, 3,8 miliar sudah menggunakan media sosial
pada tahun 2020. Dari data tersebut, sudah berapa banyak postingan-postingan
status di media sosial yang muncul per hari, per bulan, bahkan per tahun di
seluruh dunia.
Dalam hidup, ada saja hal-hal menarik yang sayang jika tidak
diungkapkan melalui status, baik dari dalam maupun luar diri kita. Diakui atau
tidak, pengungkapan hal-hal menarik tersebut umumnya didasarkan oleh nafsu dan
keinginan.
Dalam ilmu psikoanalisis, nafsu dan keinginan ini merupakan
penggerak darI Id. Id adalah suatu komponen utama dari sifat manusia yang sudah
ada sejak manusia lahir. Id melibatkan perilaku primitif atau perilaku yang
kurang dipertimbangkan baik buruknya untuk memenuhi suatu keinginan atau
kebutuhan. Oleh karena itulah, seorang pengguna media sosial akan mengungkapkan
hal apapun yang menarik menurut dirinya, termasuk hal-hal yang tidak penting dan sensitif sekalipun.
Jika berkaca dari pengalaman saya, status-status di media
sosial itu cenderung hanya dilihat oleh para pemirsanya. Hanya sedikit dari mereka yang akan membalas
status-status tersebut. Saya rasa,
status-status kalian juga mengalami hal yang sama. Memang terlihat seperti
kurang empati. Tetapi, jika mereka selalu melihat status-status kita, bisa saja
terdapat rasa empati yang enggan untuk mereka ungkapkan. Saat melihat kelakuan mereka, prasangka pun bisa
saja muncul yang membuat mental kita diuji.
Jika prasangka kita cenderung positif, maka mental kita akan tetap baik.
Lain halnya jika yang diposting adalah hal-hal yang bersifat
privasi, seperti jumlah kekayaan, status percintaan , dan lain-lain. Ketika
hal-hal tersebut diumbar tanpa memperhatikan norma-norma yang berlaku di
masyarakat, efeknya mungkin belum terasa sesaat setelah diposting.
Tetapi, selang beberapa lama, akan muncul pesan dengan
kata-kata kasar yang menyebutkan bahwa postingan tersebut terlihat tidak pantas
menurut dia. Jika si pembuat status memiliki sifat sensitif yang tinggi, kata-kata
kasar tersebut akan membuatnya stress. Goncangan perasaan ini akan mengganggu
kegiatannya sehari-hari jika dibiarkan dalam jangka waktu yang lama.
Dia yang merasa postingan tersebut tidak pantas memang berada
di pihak yang benar. Menurutnya, postingan status tersebut terkesan sombong,
kurang beretika, dan lain-lain. Memang, seharusnya si pembuat status tersebut
bisa sadar diri setelah mereka tegur. Tetapi, dia juga semestinya menggunakan
kata-kata yang baik dalam menegurnya.
Tak hanya itu, jika status-status di media sosial
menyinggung suatu pihak atau bahkan menggiring opini masyarakat, maka si
pembuat status akan berurusan dengan hukum. Seperti yang terjadi di
Sumatera Utara pada tahun 2018. Pada
saat itu, seorang satpam sebuah bank di Sumatera Utara membuat status di
Facebook yang menyebutkan bahwa teroris itu tidak ada di Indonesia.
Kasus lain yang
terkenal adalah tertangkapnya musisi Ahmad Dhani karena kicauannya di Twitter
yang menyebutkan bahwa pendukung penista
agama perlu diludahi mukanya.
Oleh karenanya, guna mengantisipasi hal-hal buruk akibat
status di media sosial, sebaiknya berlakukan pembatasan terhadap hal-hal yang
ingin kita ungkapkan melalui status media sosial.
Adapun cara yang ampuh adalah dengan bertanya kepada diri sendiri : “Apakah kata-kata ini akan merugikan diri sendiri dan orang lain?”. Jika bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan baik, maka akan menjadi bahan penting saat hendak membuat status di media sosial.
Referensi :
Ini Data Pengguna Internet di Seluruh Dunia Tahun 2020
7 Kasus Status di Media Sosial yang Pernah Dibawa ke Jalur Hukum
Ahmad Dhani Dilaporkan ke Polisi karena Kicauan Bernada Kebencian
Teori Freud tentang Sifat Manusia : Id, Ego, Superego
Id, Ego,Superego : Psikoanalisis kepribadian Sigmund Freud
Cara Mengatasi Perasaan Sensitif
Komentar

Beneeer. Makanya aku selalu mikir banyak kali sebelum memposting sesuatu. Apalagi kalo berdasarkan kemarahan.
BalasHapusSemarang apapun, jangan pernah menuliskan sesuatu di medsos kita. Krn di saat marah, otak pasti sdg ga mampu berpikir baik. Segalanya pengen kita luapin. Baru setelah kemarahan reda, nyesel deh :(. Kena UUITE pula.
Intinya redam emosi dulu, berpikir, baru update.
Hapus