POM Bensin Pengisi Kemerdekaan

Hati Tanpa Nama "Nameless Heart"

 


Suasana yang tenang di taman membuat Anne merasa tenang hinggap di jiwanya. Aura positifnya pun bertambah ketika seorang pria mapan lewat di hadapannya. Ia bernama Hunter, dalam bahasa Inggris artinya “pemburu”. Namun, bukan dia yang memburu, justru Hunter yang diburu oleh para wanita karena parasnya yang tampan dan juga kekayaan yang dimilikinya. 


“Hai,” sapa Anne dengan malu-malu.

“Namaku Anne."

“Hunter," balas Hunter dengan tegas.

Anne masih canggung saat itu.

“Kamu kerja dimana?” tanya Anne malu-malu.

“Saya direktur utama di sebuah perusahaan manufaktur,"

"Wah, keren sekali. Pasti banyak wanita yang tergila-gila, ya?”

“Ya, begitu.”

Hati Anne merasa cemburu mendengarnya. 

“Kamu mau jalan-jalan?" ajak Anne setelah mengumpulkan seluruh nyalinya.

“Boleh,"


Keduanya berjalan-jalan di sore hari bersama. Mereka tak sadar bahwa Grace sedang mengamati dari kejauhan.

“Kurang ajar. Aku sudah lama menyukainya, malah sekarang disalip orang lain. Awas saja nanti!

ujar Grace dalam hati.

 

Melihat kalung yang dikenakan Anne, Hunter merasa tidak asing dengan kalung tersebut. 

“Itu sama seperti kalung yang dikenakan bosku."

“Oh, kamu punya bos? Kukira di atas posisimu tidak ada pejabat lagi,” kata Anne.

“Aku punya atasan. Dia memimpin sejumlah perusahaan, termasuk perusahaanku. Namanya Pak Richard."

"Tunggu, Pak Richard itu ayahku.”

“Sungguh? Aku merasa terhormat bisa berkenalan denganmu," ujar Hunter sedikit terkejut.

“Ah, tidak perlu begitu. Anggap saja aku orang biasa," 

Begitulah Anne, ia memiliki hati yang rendah dalam dirinya sejak lahir.

 

Tiba-tiba, Grace datang mendekati keduanya.

“Oh, jadi kamu anak bos, ya? Buat apa kamu berdekatan dengan sesama orang kaya? Mestinya aku yang dekati dia agar statusku terangkat," kata Grace.

“Urusan cinta tidak memandang status,” ujar Anne dengan tenang.

“Omong kosong. Pergi sana!” bentak Grace.

“Kalau dia pergi, aku juga!” Ucap Hunter tegas.


Kemudian, keduanya pun pergi meninggalkan Grace.

“Ih, kenapa jadi seperti ini?” Grace mengeluh karena siasatnya gagal. Tetapi, dia teringat akan satu hal.

 

“Anne!” Bentak sang ayah menyambutnya di rumah.

“Ada apa, Yah?”

“Ayah tidak mau kamu dekat dengan Hunter! Lelaki itu kan bawahan ayah. Muka ayah mau taruh dimana kalau kalian menikah? “

“Ayah tahu dari mana tentang Hunter?” tanya Anne.

“Ayah tahu dari Grace. Besok-besok, kamu tidak boleh lagi berpacaran dengan Hunter. Kalau sampai berpacaran lagi, ayah akan membunuhmu!” ancam ayahnya.

 

Mendengar perkataan tersebut, hati Anne gelisah. Tak tahu harus berbuat apa karena ia berada di antara mempertahankan nyawanya atau mempertahankan cintanya. Di sisi lain, dia juga kesal dengan Grace karena telah mencampuri urusan pribadinya. Memang, Grace itu adalah anak dari kerabat dekat ayah Anne. Tetapi, tidak seharusnya dia bersikap seperti ini.


"Kamu jangan mencampuri urusanku. Uruslah dirimu sendiri!" Begitu isi pesan singkat yang dikirimkan Anne ke nomor Grace.

"Urus urusanku? Menikahi Hunter itu juga urusanku. Dia yang akan mengubahku jadi lebih baik. Jadi, justru kamulah yang jangan ikut campur urusanku!" balas Grace.

Karena kebimbangan yang dialaminya, Anne kemudian mengalami depresi berat. Sampai-sampai, dia harus dibawa ke rumah sakit jiwa atas saran dari seorang psikiater.


Setelah dirawat selama kurang lebih dua bulan, ayahnya hanya mengunjunginya sekali. Justru, Hunter lah yang rajin menjenguk serta merawatnya. Terhitung sudah empat kali dia menemuinya. Gerak-gerik Hunter yang menjenguk Anne akhirnya diketahui oleh Grace melalui status-status Hunter. 

“Ih, kenapa dia masih perhatian dengan wanita jalang itu? Sudah tahu dia gila. Masih saja diperhatikan,” gumam Grace.

Dari kekesalannya tersebut, terbesitlah suatu rencana. Dia berniat menjalankan rencananya tersebut di malam hari. 

“Kena, kau,” gumam Grace di depan ruang perawatan Anne.


Esoknya, Hunter terkejut karena tidak mendapati Anne di ruangannya.

“Dok, pasien yang bernama Anne kemana, ya?” tanya Hunter

“Aku tidak tahu. Maaf."

"Bagaimana Anda bisa tidak tahu? Aku  bisa tuntut kalian atas kelalaian ini!" amarah Hunter memuncak.

"Kami minta maaf, Pak."

 

Saat Hunter meninggalkan rumah sakit tersebut, dia mendapat sebuah pesan ancaman di Handphone-nya dari Grace.

"Hunter, kamu tidak usah khawatir. Anne ada di sampingku, dia hanya kujadikan tumbal agar kau jadi milikku. Jadi, kau memilih menikah denganku lalu aku bebaskan Anne, atau kau menolak untuk menikah denganku lalu membiarkan Anne mati di tanganku? Aku berikan waktu dua hari untuk memikirkannya,"

Hunter kebingungan setelah membaca pesan tersebut. Jika dia menikah dengan Grace, maka Anne akan dibebaskan. Tentu dia tidak ingin menikahi wanita sejahat Grace. Tetapi jika dia menolak, maka Anne akan dibunuh. Rasa cintanya kepada Anne sudah terlalu dalam.

 

Setelah dua hari, dia memutuskan untuk tidak mau menikah dengan Grace. 

"Baik. Kau harus kesini untuk menyaksikan detik-detik menjelang kematiannya," balas Grace.


Hunter berlari menuju rumah Grace. Ia melihat Anne dengan dan kaki dan tangan yang terikat  serta mulut yang tersumpal lakban hendak diterjunkan dari atap rumah Grace. 

"Grace, hanya karena cinta, kau jadi seperti ini? Tega, kau!" Bentak Hunter dengan suara keras.

"Aku tidak peduli! Inilah konsekuensinya jika kau menolak cintaku."

Seketika, Anne pun dijatuhkan.

 

Hunter dengan cepat membawanya ke rumah sakit. Beberapa menit kemudian, Grace ditangkap polisi setelah mendapat laporan dari Hunter. 

Menurut hasil pemeriksaan dokter, Anne mengalami pendarahan di otak. Hidupnya diperkirakan hanya sampai sebulan lagi.

"Itu tidak mungkin, Dok." Hunter terlihat sedih mendengar keterangan tersebut. 

Ia kemudian menghubungi ayah Anne. Sesampainya di rumah sakit, ayahnya terlihat begitu sedih setelah mengetahui keadaan anaknya. Ia juga menyesal karena jarang melihat keadaan Anne.

Hari demi hari, Hunter  dibantu Pak Richard merawat Anne dengan sepenuh hati. Dari mulai menyuapinya hingga membantunya berjalan.  Hingga suatu ketika, Hunter berencana untuk menikahi Anne di saat menjelang hari terakhir hidupnya. Anne benar-benar terharu mendengar rencana tersebut. Pak Richard pun merestuinya.


Dan tibalah saat-saat indah itu, ruangan rawat inap telah didekorasi sedemikian rupa sehingga brrubah menjadi sebuah ruangan  untuk pesta yang tertata rapi. Anne terlihat begitu cantik dengan gaunnya dan Hunter terlihat gagah dengan jasnya.

"Anne, biarpun hidupmu hanya sebentar, namun aku akan tetap setia hingga kita berkumpul lagi di surga," ucap Hunter dengan nada lirih.

"Amin. Terima kasih," balas Anne.

 

Di hari pernikahannya, seharusnya Anne sudah menjemput ajalnya. Tetapi, keajaiban justru terjadi esok harinya. Dia terbangun dari tidurnya.

"Anne? Syukurlah kamu masih hidup." Hunter menangis terharu melihat momen tersebut.

"Benarkah? Mungkin inilah kekuatan cinta. Ketika cinta sudah mendalam dan memberi nama yang sesuai di hati, maka ragaku pun akan meresponnya dengan begitu positif. Nama itu tidak lain adalah namamu," ujar Anne.

Mereka pun berpelukan menahan haru. Di sisi lain, dokter yang merawat Anne tidak menyangka melihat kejadian tersebut, karena sudah di luar perkiraannya.


Keadaan Anne pun perlahan mulai sehat kembali. Setelah keluar dari rumah sakit, Anne dan Hunter hendak mendatangi Grace.

"Mau apa kalian kesini?" tanya Grace.

"Kami hanya ingin menjengukmu. Sudah seharusnya kami sebagai manusia untuk memberi perhatian kepada manusia lainnya. Ini aku juga bawakan buah-buahan untukmu," ujar Anne.

"Aku tidak butuh kunjungan kalian juga buah-buahan busuk itu. Dendamku kepadamu masih belum hilang!" Grace lalu melempar buah-buahan tersebut dan mengusir mereka.

"Oke-oke. Kami akan pergi. Semoga hari-harimu selalu baik meski di dalam penjara. Selamat tinggal," ujar Hunter.

Setelah mereka pergi, Grace terlihat kesal karena semua rencananya telah gagal. Tetapi, dia tidak kehilangan akal. Di dalam penjara, dia terus menyusun strategi untuk memisahkan Anne dan Hunter. Setelah strateginya matang, ia akan langsung melakukan eksekusi setelah ia keluar dari penjara.

 

To be continued....

Komentar