- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
![]() |
| sumber : pexels.com |
Bertepatan dengan Hari Pahlawan, saya berdiskusi dengan seorang dosen di tempat tongkrongan mahasiswa. Dari diskusi tersebut, pemahamanku tentang materi-matetri
kuliah semakin tajam. Dari mulai novelisasi, ekranisasi novel, serta alih
wahana. Selain itu, dosen tersebut
berkata bahwa dalam mempelajari suatu ilmu, sebisa mungkin pelajari sumber
pertama dari ilmu tersebut. Jangan mudah percaya dari sumber kedua dan ketiga
karena akan berbeda tafsiran.
Setelah saya pikir, ternyata memang benar adanya. Sumber
pertama itu adalah sumber paling terpercaya karena menjadi sumber informasi
utama. Namun, untuk memahami ilmu-ilmu dari sumber pertama, kupikir mungkin
akan susah pada awalnya karena berbahasa Inggris. Saya pun juga berpikir,
sumber ketiga dan kedua tetaplah berperan sebagai sumber informasi pendukung
ketika hendak membuat suatu karya ilmiah.
Setelahnya, saya berkenalan dengan seorang teman baru yang
berada di samping sang dosen. Dia juga merupakan teman sekelas saya yang baru.
Dilihat dari gaya bicaranya, ternyata dia orang yang cerdas dalam hal
kesusastraan, seperti mengetahui perihal kritik sastra, ilmu-ilmu sastra
banding, serta pembuatan suatu karya puisi. Semua itu dia dapatkan dari
perkuliahan yang dijalani sebelumnya. Jadi, sebelum dia masuk ke Unindra, dia
sempat kuliah di ISI Yogyakarta.
Selain itu, dia juga
memiliki daya analisis yang tajam karena mampu menganalisis teman-teman
sekelasnya melalui tulisan-tulisan mereka. Dia bisa membedakan mana mahasiswa
sekelasnya yang potensial, mana yang tidak. Menurutnya, mahasiswa yang
potensial terlihat dari tulisan-tulisannya yang cenderung berwawasan tinggi
atau yang memiliki kepekaan terhadap suatu karya sastra.
Bahkan, dari penuturannya, dia juga bisa memperkirakan suatu kejadian di masa depan melalui karya puisi. Ketika berada di suatu tempat, dia akan menuangkan tulisan berbentuk puisi berisi tentang masa depan dari tempat yang dipijakinya tersebut. Menurut saya, kemampuan memprediksi seperti yang dia milki belum tentu dimiliki juga oleh orang lain.
Kami berdua pun
berdiskusi cukup panjang mengenai dunia sastra dan pengalaman hidup. Meski demikian, diskusi ini terasa nikmat karena dilakukan di sebuah warung kopi. Dari
diskusi tersebut, saya mendapat ilmu bahwa sastra itu dibuat berdasarkan
kaidah-kaidah ilmiah. Seperti Wiji Thukul yang membuat puisi berdasarkan hasil
pengamatan terhadap lingkungan sekitarnya. Perlu diketahui, pengamatan juga
termasuk langkah dalam membuat karya ilmiah. Saat berdiskusi, saya lebih banyak
mendengarkan karena dia lebih mendominasi pembicaraan. Meski begitu, saya tidak
mempermasalahkannya sebab isi pembicaraannya memang berbobot.
Diskusinya begitu mengalir karena dia memang pengetahuannya luas. Namun, dia memiliki kelemahan dalam hal menulis sesuai kaidah jurnalistik dan kurang mengetahui dunia blogging. Oleh karenanya, dia meminta bantuan saya untuk menuliskan hasil pengamatannya dengan tulisan berkaidah jurnalistik dan diterbitkan di blog. Perlu diketahui, tak hanya bisa menganalisis teman-temannya, dia juga bisa mengamati hal-hal yang dialami mahasiswa yang mungkin sering luput dari perhatian, seperti rokok, gadget, dan lain-lain. Hasil pengamatan tersebut ingin dia jadikan tulisan dan ingin diterbitkannya di suatu blog.
Saya bersyukur bisa bertemu orang-orang seperti ini. Mereka cenderung langka karena kecerdasan yang jarang dimiliki orang lain di zaman sekarang. Semoga saja, ilmu-ilmu yang ditularkan mereka bisa awet di otak saya.

Komentar
Posting Komentar