POM Bensin Pengisi Kemerdekaan

Apakah Masker Salah Di Mata Kalian?


sumber : pixabay.com


Pada Jumat (10/4), ibadah salat Jumat tetap dilaksanakan di salah satu masjid di Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Semua terlihat normal meskipun di tengah wabah COVID-19. Meskipun demikian, pihak masjid sengaja tidak menggelar karpet sebagai upaya pencegahan dari wabah ini. Para jamaah pun tidak ada yang mengenakan masker kecuali kakak ipar saya. Saya tanpa sengaja melihat reaksi masyarakat yang terlihat penasaran melihat kaka ipar saya tersebut. Saya pun mulai berprasangka bahwa tatapan tersebut merupakan tanda dari suatu stigma atau prasangka negatif terhadap orang bermasker. Semoga saja prasangka tersebut tidak benar.

Jika pun benar, tidak seharusnya masyarakat berprasangka seperti itu. Kemungkinan, mereka berpendapat bahwa orang yang mengenakan masker itu positif terkena COVID-19. Hal ini didapat bukan tanpa dasar, menurut WHO pada awal Maret 2020, masker hanya digunakan untuk orang-orang yang sakit serta para petugas medis yang menangani pasien yang memiliki penyakit pernapasan. Informasi ini pun tersebar luas dan mungkin dibaca oleh para warga disana.

Namun, sebuah penelitian  menunjukkan bahwa memakai masker efektif untuk mencegah infeksi virus ini. Hal ini membuat WHO mengubah statementnya yang sebelumya tidak menganjurkan pemakaian masker bagi orang sehat menjadi mendukung upaya pemerintah di suatu negara yang menganjurkan para warganya untuk mengenakan masker di saat pandemi masih berlangsung.

Guna mengikuti anjuran WHO, pemerintah Indonesia melalui juru Bicara Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, mencanangkan program “Masker Untuk Semua”. Dalam program ini, masyarakat diwajibkan mengenakan masker kain ketika memang harus bepergian ke luar rumah.

Pemilihan masker kain bukan tanpa sebab, hal ini dikarenakan masker tersebut dapat dipakai berulang kali sehingga mengurangi jumlah limbah medis di lingkungan. Diketahui limbah-limbah medis seperti masker sekali pakai dan APD sulit untuk didaur ulang dan tidak menutup kemungkinan terdapat virus COVID-19 dalam limbah-limbah tersebut.

Alasan lain juga diungkap oleh Tim pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, yang menyarankan kepada masyarakat untuk mengenakan masker kain tiga lapis. Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang mereka lakukan terkait kemampuan masker jenis tersebut.

"Sesuai hasil penelitian, masker kain dapat menangkal virus sebesar 70 persen," ucap Profesor Wiku Adisasmito, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, seperti dikutip dalam Kompas.com dari akun Youtube BNPB Indonesia, Senin (6/4).

Dari informasi di atas, pemerintah dalam hal ini Kemenkominfo dan seluruh media terpercaya harus menyebarkannya dengan berbagai cara, baik melalui televisi (TV), koran, website, serta media sosial. Pemerintah daerah juga berperan penting dalam hal ketersediaan infrastruktur telekomunikasi agar informasi-informasi aktual, terutama terkait COVID-19, agar dapat tersalurkan dengan baik hingga ke daerah-daerah pelosok.

Berdasarkan pengamatan saya di situs pikobar.jabarprov.go.id pada 10 April 2020, tidak ada kasus yang terdata di Kecamatan Cicurug. Namun, berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh keluarga saya, terdapat beberapa orang yang mengalami gejala batuk-batuk. Hal ini pun terlihat kontradiktif atau berlawanan dengan data dari pemerintah daerah tersebut. Untuk itu, pencegahan pun tetap harus dilakukan.

Akan tetapi, masyarakat di Cicurug dan sekitarnya ternyata bersikap toleran terhadap para pemakai masker pada bulan September-Oktober 2020. Ketika saya berkeliling kampung sambil berjualan plastik dengan kawan-kawan, mereka tetap ramah kepada saya yang memakai masker. Bahkan, adapula yang tak segan-segan mengajak saya untuk berbincang-bincang santai meski saya tetap memakai masker kecuali di saat makan dan minum. Karena keramahan tersebut, saya pun memiliki kawan-kawan baru.

Sebenarnya, saya pernah mendengar bahwa orang-orang dari suku Sunda itu terkenal ramah. Mereka mampu bersikap terbuka terhadap siapapun. Sifat-sifat tersebut tidak luntur hingga wabah COVID-19 datang yang bisa saja mengubah kultur hidup mereka. Hingga wabah ini “mundur secara perlahan” dari wilayah mereka, karakter-karakter hangat mereka pun tetap terjaga.

Menurut data dari pikobar.jabarprov.go.id (14/10), Kecamatan Cicurug menempati urutan kedua dalam jumlah kasus positif terbanyak di Kabupaten Sukabumi dengan jumlah kasus sebanyak 12 orang yang masih dirawat/diisolasi. Tetapi, mereka sudah menganggap wabah ini telah mereda, anggapan tersebut memang ada pula benarnya. Tercatat, Kecamatan Cicurug memiliki total terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 41 orang. Namun, dari 41 orang tersebut, 29 orang sudah dinyatakan sembuh dan tersisa 12 orang yang masih dirawat/diisolasi. Jadi, kalimat “mundur secara perlahan” pada paragraf sebelumnya bukanlah tanpa alasan.

Meski demikian, upaya pencegahan tetap harus ditegakkan. Untung saja, sebagian masyarakat di Kecamatan Cicurug masih ada yang taat dalam menjalankan protokol kesehatan, meski hanya memakai masker. Contoh yang paling menonjol adalah ketika saya tidak sengaja melewati Kantor Kepala Desa Pasawahan kemarin. Saat itu, di Kantor Kades Pasawahan sedang diadakan suatu acara. Menurut pengamatan saya, para panitianya telah memberikan contoh yang baik kepada para hadirin acara terebut dengan mengenakan masker. Tak hanya panitia, sebagian hadirin pun juga turut mengenakan masker. Menurut saya, acara seperti ini merupakan momen yang tepat dalam upaya sosialisasi pencegahan COVID-19, terutama di wilayah Cicurug ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar