POM Bensin Pengisi Kemerdekaan

Diari Seorang Pedagang

 

sumber : pexels.com


Kemarin, aku berjualan plastik dengan menggunakan sepeda motor. Aku jajakan plastik-plastik yang kubawa, mulai dari plastik anti panas, sedotan berbagai bentuk, plastik kresek, dan lain-lain. Teknik berjualan yang kugunakan adalah seperti sales, yakni menawarkan kepada pedagang-pedagang yang kulalui. Dan kurasa cara berdagangku ini tergolong baru di daerah tempatku ini, Cicurug.

Meskipun kurasa mulus di awal, tetapi halang rintang pun muncul selanjutnya. Berbagai penolakan dengan berbagai alasan kuterima. Alasan yang paling banyak kudengar adalah ketersediaan stok plastik yang masih banyak. Oke, aku terima semua itu. Toh, Thomas Alva Edison saja berani gagal hingga ribuan kali. Sedangkan aku mungkin baru puluhan kali gagal. Setelahnya, pasti akan kutemui titik terang yang menggembirakan.

Titik terang itu tak selamanya mesti dirasakan saat itu juga. Tetapi, masih bisa kurasakan bak telur setengah matang. Jadi, sebenarnya barang daganganku laku, tetapi akan dibayar esok harinya.  Selain itu, adapula  yang dengan senang hati memberikan nomor teleponnya. Bagiku, nomor telepon mereka berarti rezeki yang masih menggantung alias "di antara deal atau tidak deal", tetapi manisnya sudah bisa kurasakan.

Selain merasakan manisnya rezeki, aku juga merasakan manisnya pengalaman. Kemarin, aku memang sedikit merasakan nikmatnya rezeki. Tetapi, aku lebih banyak merasakan nikmatnya pengalaman. Dari mulai saat aku berteduh di suatu tempat, mendapat berbagai penolakan dengan alasan yang cukup beragam, hingga bertemu dengan pedagang yang sudah seperti kawan sendiri. Meskipun ada pahit yang kurasakan, tetapi paling tidak, pengalaman-pengalaman buruk tersebut dapat menjadikanku lebih tangguh di masa depan.

Karena aku bertemu dengan pedagang yang akrab, aku bisa merasakan suatu kebahagiaan. Pasalnya, pedagang tersebut dengan ramahnya mengajakku berbincang santai seperti kawan sendiri. Bahkan, dia tak segan-segan memujiku dan hendak menjadi calon langganan dengan memberikan nomor telepon anak buahnya. Nikmat mana lagi yang ku dustakan?

Setelah kurasakan suatu kebahagiaan, aku berharap. Semoga pikiran-pikiran negatif yang selama ini menggelayut di kepalaku lenyap karena terhalang oleh kebahagiaan yang kurasakan. Memang kuakui, rasa senang tidak selalu bisa kurasakan. Tetapi, paling tidak, rasa senang tersebut mampu membuat kondisi psikisku tetap stabil. Aku juga merasa bahwa kebahagiaan tak selalu datang dari gadget dengan fiturnya yang beragam nan mengasyikkan. Seseru-serunya gadget, ada kalanya akan kalah dengan hangatnya pengalaman-pengalaman berharga dari luar rumah.







Komentar

Posting Komentar