POM Bensin Pengisi Kemerdekaan

Kisah Penolakan Selama Menjadi Penulis

 

sumber : pixabay


Penulis merupakan pekerjaan yang menurut saya terhormat. Sudah banyak teori yang diukir dalam guratan-guratan pena yang tetap digunakan hingga saat ini. Oleh karena itu, terdapat sebuah kalimat dari Pramudya Ananta Toer : “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Siapapun bisa menjadi penulis, baik tua maupun muda. Hanya dengan berbekal pengalaman, pengetahuan, serta kemauan untuk memulai, maka seseorang bisa menghasilkan suatu karya tulis meskipun dengan bahasa sekedarnya. Peluang untuk menerbitkan serta melombakan karya tulis pun terbuka untuk semua usia.  

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, menjadi penulis itu tidak memerlukan banyak bekal. Namun, jika ingin menjadi penulis yang lebih profesional, diperlukan beberapa ilmu-ilmu dasar yang perlu dipelajari lebih lanjut, seperti  ejaan (PUEBI), diksi atau pemilihan kata-kata, dan penentuan paragraf. Selain itu, ilmu pengetahuan lainnya juga mesti ditambah jika ingin hasil tulisannya lebih padat.

Untuk dapat  mengembangkan karir kepenulisan, tentu ada saja hambatan yang akan dihadapi. Hambatan paling utama adalah kemauan untuk menulis. Ada saja godaan yang menghambat keinginan kita untuk menulis. Selain itu, kesibukan karena kegiatan lainnya juga akan menghambat kita untuk menulis.

Hambatan lainnya bagi seorang penulis adalah “penolakan”, seperti penolakan dari penerbit, penolakan dari narasumber, bahkan penolakan dari kita sendiri. Alasannya pun beragam. Namun, semua itu dapat dilalui dengan sebuah sikap “kepala batu” atau “tahan banting”.

Terkait dengan "penolakan", saya akan berbagi kisah tentang berbagai "penolakan" yang saya alami selama menjadi penulis. 

Pada mulanya, saya memulai karir menulis saat SMP dengan membuat sebuah puisi. Namun, seiring berjalannya waktu, keterampilan menulis tersebut saya kembangkan sejak lulus SMA dengan menulis cerita pendek dan mencoba mengirimnya ke suatu penerbit. Setelah menunggu hingga sebulan, saya tidak kunjung mendapatkan pesan balasan dari penerbit tersebut.

Namun, hal tersebut tidak membuat saya putus asa. Saya pun membuat cerita pendek lainnya dan mencoba mengirimkan karya tersebut ke penerbit lainnya.  Setelah saya cek sebulan kemudian, saya pun tidak mendapatkan pesan balasan dari penerbit tersebut yang kemudian saya tafsirkan sebagai bentuk penolakan atas karya yang telah saya buat.

Meskipun sudah ditolak lebih dari satu kali, namun bukan menjadi alasan bagi saya untuk berhenti berkarya. Karena setelahnya, saya mencoba membuat bentuk karya tulis lainnya, yaitu artikel populer. Saya mencoba menulis di sebuah platform daring dan menulis artikel bertopik sejarah. Hasilnya pun cukup memuaskan untuk saya yang masih pemula.

Seiring berjalannya waktu, artikel-artikel yang saya hasilkan pun mendapatkan reaksi positif dari para pembaca. Meskipun adapula yang berkomentar negatif, seperti contoh sumber tulisan yang tidak valid. Untuk komentar-komentar negatif tersebut, saya tafsirkan sebagai bentuk penolakan karena mereka menolak atas ilmu-ilmu yang telah saya tuliskan.

Namun, setelah itu, saya bisa belajar dari kesalahan saya tersebut. Setelah bergabung dengan sebuah lembaga pers mahasiswa, saya bisa menemukan cara agar mendapatkan sumber-sumber tulisan yang valid. Jadi, untuk karya-karya berikutnya, saya pun bisa membuat tulisan-tulisan dengan sumber-sumber dari Tirto.id, Historia.id, sampai National Geographic Indonesia.

Tidak hanya sampai disitu, saya juga pernah ditolak berkali-kali oleh narasumber. Jadi, saat saya menjadi jurnalis pers mahasiswa, saya hendak mewawancarai para calon narasumber yang merupakan calon anggota legislatif. Ketika itu, wawancara sudah hampir terlaksana karena sudah jelas waktunya. Namun, entah kenapa, rencana tersebut batal. Saya pun kecewa.

Tidak hanya satu, para “caleg” lainnya juga menolak ajakan wawancara saya. Alasannya pun bermacam-macam, ada yang mengatakan karena sibuk, sampai ada yang alasannya tidak jelas. Menurut rekan-rekan saya sesama jurnalis, mereka sengaja menghindar karena takut dengan  pertanyaan-pertanyaan wartawan yang kritis. Saya anggap ini sebagai bentuk penolakan terhadap pengungkapan fakta.

Namun, hal tersebut tidak membuat saya menyerah dalam membuat suatu berita. Karena setelahnya, saya berhasil membuat berita soft news dengan para narasumber yang bersifat terbuka dan ramah.  

Pada suatu ketika, diadakanlah sebuah rapat redaksi untuk menentukan isi dalam buletin. Saya pun turut berpartisipasi dengan cara memberikan saran. Jika saran saya diterima, maka saran tersebut akan dijadikan isi tulisan yang akan diterbitkan di buletin. Saya pun memberikan kurang lebih tiga saran. Namun, semua saran tersebut ditolak karena beberapa alasan, seperti mengandung unsur kriminal, serta sulit untuk dicarikan sumber-sumbernya.  

Namun, kemudian saya memberikan saran lain dan diterima. Hal ini karena saran saya kali ini lebih relevan dengan tema dari buletin tersebut serta narasumber yang dianggap mudah dicari. Saya pun menjadi wartawan untuk topik yang saya sarankan ini, yaitu tentang “Astronot Wanita”.

Meskipun awalnya dianggap mudah, namun ternyata susah. Untuk dapat mewawancarai narasumber yang dibutuhkan, saya harus membuat surat permohonan wawancara yang ditandatangani oleh redaktur pelaksana khusus buletin serta pemimpin redaksi. Setelah surat sudah di tangan, saya menyerahkannya ke tempat dimana sang calon narasumber bekerja. Tetapi, saya harus menunggu jawaban dari beliau. Supaya mendapat kabar yang pasti, saya pun diberikan nomor telepon milik sekretaris beliau yang bisa di-chat melalui Whattsapp. 

Setelah beberapa kali chat, saya mendapatkan kabar bahwa beliau sibuk, sehingga wawancara dapat dilaksanakan seminggu kemudian. Saya pun berdiskusi dengan rekan setim saya untuk topik ini. Hasilnya, wawancara tersebut terpaksa saya batalkan karena hasil tulisan sudah harus diserahkan dalam waktu dekat. Saya anggap ini sebagai penolakan meskipun saya sendiri yang menolaknya. Akhirnya, saya pun tetap menulis tentang topik ini meskipun sumber-sumbernya berasal dari internet dan buku daring atau e-book.

Dari semua pengalaman tersebut, terlihat bahwa cukup banyak bentuk penolakan yang saya alami. Namun, bukan berarti itu semua dapat menghentikan langkah saya sebagai seorang penulis. Karena saya cenderung menyukai bidang ini, maka perlahan-lahan saya akan melangkah lebih maju.



Komentar

  1. sebagai seorang penulis, memang penolakan amat sering terjadi
    makanya, mental untuk tidak menyerah sangat diperlukan
    yang terpenting tetap menulis dan berkarya meski sering mengalami penolakan,

    BalasHapus

Posting Komentar