- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
sumber gambar : pexels.com
Sehabis melaksanakan
rutinitas, mereka pun berkumpul dan melakukan beberapa kegiatan. Ada yang
curhat mengenai kehidupan pribadinya, ada yang berbincang-bincang secara santai
mengenai berbagai hal, ada yang bernyanyi sembari memainkan gitar, dan adapula
yang memainkan suatu permainan. Beginilah gambaran mengenai anak-anak
tongkrongan.
Saya pun pernah
merasakan yang namanya nongkrong bersama. Nuansanya memang sama dengan
yang saya tuliskan di atas, yaitu santai. Beban hidup saya pun seperti terlepas
satu per satu saking damainya. Ketika nongkrong, saya lebih suka bernyanyi
bersama serta berbincang-bincang santai mengenai apapun.
Tetapi, dikarenakan saya cenderung introvert, maka saya pun
akan meninggalkan tempat tongkrongan jika sudah tidak betah atau bosan.
Di antara kegiatan anak-anak tongrongan di atas, salah satu yang
paling potensial yakni berbincang-bincang. Memang awalnya percakapan dilakukan
secara santai dan topiknya pun tidak terlalu penting. Namun, lama-kelamaan
perbincangan mereka pun menjalar ke arah yang lebih serius, seperti politik,
hukum, dan sosial.
Percakapan yang topiknya berkembang tersebut tidak lepas
dari keadaan yang mereka rasakan sebagai masyarakat. Mereka kerap menjadi “tumbal” atas semua yang
terjadi di tingkat daerah maupun nasional. Contohnya seperti saat mereka
merasakan naiknya iuran BPJS Kesehatan yang menjadi kebutuhan primer mereka
dalam hal kesehatan.
Jika percakapan ini dibahas secara lebih dalam menjadi
sebuah diskusi, maka bukan tidak mungkin akan muncul kaum intelektual yang
berasal dari masyarakat kelas bawah. Hal ini tidak terlepas dari manfaat lain
dari diskusi, yaitu menambah ketajaman daya pikir. Bagi mereka yang masih
penasaran dengan apa yang dibahas di tempat tongkrongan, maka mereka akan
membuka buku-buku, koran-koran, atau bahkan mencari di internet untuk memuaskan
rasa penasaran mereka tersebut. Hasil dari pencarian tersebut akan disampaikan
kepada rekan-rekan satu tongkrongan lainnya yang memungkinkan timbulnya sebuah
kajian yang lebih serius. Jika kajiannya sudah sampai tahap kesimpulan , maka
mereka pun akan melakukan hal-hal yang lebih besar, entah itu berdemonstrasi,
menulis opini di sebuah media massa, atau bahkan mogok kerja.
Tak hanya mereka yang berbincang-bincang, mereka yang
memainkan gitar sambil bernyanyi pun juga mempunyai potensi yang besar. Berawal dari petikan gitar yang mengiringi
lagu-lagu syahdu, muncul sebuah ide untuk menunjukkan bakat bermusik tersebut
ke channel YouTube. Dikarenakan
banyaknya jumlah pemirsa dan jumlah likes,
seorang produser pun mengundangnya untuk dibuatkan video klip. Jika hasil
rekamannya laku, maka jadilah dia seorang musisi ternama seperti halnya GAC
(Gamaliel Audrey Cantika).
Memang mungkin terlihat sama dengan anak-anak tongkrongan di
tempat seelit kafe yang juga melahirkan
orang-orang cerdas. Namun, ketika ada orang cerdas yang lahir dari sebuah
tempat sesederhana saung, maka akan terlihat istimewa. Hal ini tidak terlepas
dari stigma masyarakat yang mengganggap bahwa saung atau tempat tongkrongan
sederhana lainnya adalah tempat orang-orang yang suka membuang-buang waktu
sehingga tidak mungkin akan muncul orang-orang cerdas dari sana.
Selain dianggap istimewa, kelahiran orang-orang cerdas dari
tempat-tempat tongkrongan pun dapat dianggap wajar mengingat di tempat tersebut
dapat tercipta suasana yang menenangkan. Ketenangan tersebut datang dari suasana
tempat tongkrongan yang memang santai. Perlu diketahui, seseorang akan lebih
mudah menerima setiap informasi ketika dia sedang dalam kondisi tenang.
Sebelumnya, saya telah membaca sebuah artikel di Kompasiana yang
juga membahas tentang anak-anak tongkrongan. Dalam tulisan tersebut diceritakan
tentang pengalaman sang penulis ketika nongkrong di sebuah kafe di Bandung.
Disana, banyak manfaat yang dia rasakan saat quality time tersebut, seperti bertambahnya ilmu pengetahuan
(karena adanya orang-orang dengan berbagai latar belakang ilmu), menemukan
solusi atas permasalahan hidup, hingga menyelesaikan suatu masalah secara lebih
cerdas dengan mengedepankan efisiensi
“khas anak tongkrongan”. Mengenai efisiensi “khas anak tongkrongan”, penulis
artikel tersebut menjelaskan bahwa anak-anak tongkrongan akan berusaha menyederhanakan
suatu permasalahan sehingga mampu diselesaikan secara rasional.
Tetapi, dia merasakannya di kafe. Sedangkan saya hanya
pernah nongkrong bersama kawan-kawan saya di tempat-tempat sederhana. Di
tempat-tempat tongkrongan saya tersebut, saya pernah mendengar ada sedikit
obrolan terkait isu-isu yang sedang berkembang pada waktu itu. Sayangnya, tidak
ada pakar yang ikut “nimbrung” atau bergabung
dengan forum sederhana itu, sehingga diskusi kami cenderung tidak berkembang. Selain
itu, di antara kami juga tidak ada yang mencari tahu lebih lanjut terkait apa
yang kami diskusikan.
Jadi, dapat dikatakan, tulisan-tulisan saya di atas anggap
saja sebagai bentuk harapan agar tempat tongkrongan sederhana dapat menjadi
penghasil para generasi cerdas. Maka, diharapkan orang-orang yang memiliki
latar belakang ilmu tertentu (terutama di bidang sosial dan politik) dapat
dengan berbesar hati turut bergabung dengan forum tradisional tersebut.
Demikian pula halnya
dengan adanya potensi lainnya, seperti si pemain gitar. Saya pikir tidak semua
para musisi di tempat-tempat tongkrongan memiliki niat untuk menunjukkan bakat
mereka di YouTube. Oleh karenanya, semoga saja ada musisi atau bahkan produser
yang dengan senang hati mengajak mereka ke perusahaan studio rekaman hingga
menjadi terkenal.
Tetapi, di sisi lain, saya bersyukur karena pernah nongkrong
di tempat-tempat sederhana. Karena, adapula tempat-tempat tongkrongan yang
berisi orang-orang yang menurut saya berselera rumit. Ada yang menyukai
permainan daring atau online, ada
yang suka berbelanja, ada yang suka berfoto ria,dan lain-lain. Kalau tidak
punya selera-selera tersebut, maka siap-siaplah untuk didepak dari perkumpulan
tersebut. Saya sendiri tidak mau bergabung dengan perkumpulan-perkumpulan
semacam itu kecuali jika ada komunitas yang sesuai dengan bakat dan minat saya.
Perkumpulan-perkumpulan berselera rumit tersebut mungkin bisa
mendatangkan kebahagiaan bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi saya. Menurut
saya, kebahagiaan itu bisa datang dengan cara yang sederhana. Hanya dengan
bercengkrama dengan teman-teman sepermainan dan secangkir kopi yang turut
menemani, maka kebahagiaan pun akan tercipta.
Saya menulis ini di saat pandemi COVID-19 masih berlangsung
di Indonesia. Namun, pemerintah sedang
menggaungkan program “new normal”, dimana masyarakat bisa beraktivitas seperti
semula tetapi dengan menerapkan protokol kesehatan. Dan jika ingin nongkrong di
saat era “new normal” nanti, menurut perkiraan saya, kemungkinan mereka akan
menjaga jarak satu sama lain dengan jumlah orang yang nongkrong tidak lebih
dari 5 orang dan wajib mengenakan masker. Selain itu, hand sanitizer
kemungkinan akan terpajang di beberapa sudut tempat tongkrongan.
Dan agar semua protokol
kesehatan di atas lebih bisa ditaati, kemungkinan polisi akan bekerja sama
dengan orang yang menjadi pimpinan tongkrongan. Polisi menganggap anak-anak
tongkrongan akan lebih patuh jika mendengarkan perkataan pimpinan mereka. Selain menjadi kaki tangan polisi, pimpinan
tongkrongan juga akan mengatur jadwal “menongkrong” para anggotanya dan mungkin
akan membuat jadwal penyemprotan disinfektan di tempat tongkrongan mereka. Ini
semua dilakukan agar kesehatan mereka tetap terjaga dengan tidak menghilangkan
kehangatan saat mereka nongkrong bersama.
Mengenai aturan-aturan pencegahan COVID-19 di atas, mungkin sebagian anak-anak
tongkrongan akan merasa tidak betah. Hal ini tidak terlepas dari karakter
anak-anak tongkrongan yang biasanya cenderung tidak mau diatur. Namun,
perlahan-lahan mereka pasti akan paham bahwa semua itu diterapkan demi
kesehatan mereka.
Itulah pandangan dari saya terkait anak-anak
tongkrongan. Semoga semua tulisan ini
bisa bermanfaat dan mungkin bisa membawa dampak yang lebih besar. Sekian dan terima kasih.
Referensi :
Komentar

Saya gak tau ya ini dibilang nongkrong apa gak, tapi sy paling suka rapat kegiatan di cafe2 sama temen2 komunitas, kalau rapatnya sdh selesai ya kita biasanya main dan ngobrol Lumayan lama :)
BalasHapusKalau kata saya sih itu rapat, Bu. Cuma memang suasananya lebih santai aja.
HapusIy kan kenapa anak tongkrongan sepercaya itu sama ketua mereka? Asal ketua udah ngomong mereka baru manut ngerti.
HapusAda wibawanya tersendiri si ketuanya itu berarti
Hapus