POM Bensin Pengisi Kemerdekaan

Fidel Castro dan Melesatnya Negara Kuba

Kalian sudah pasti tahu negara Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura? Negara tersebut merupakan negara-negara maju yang telah kita ketahui. Namun, tahukah kalian? Bahwa negara ini sebenarnya sudah dapat dikatakan maju, meskipun hanya di bidang-bidang tertentu.


Bendera Kuba

sumber : satuharapan.com

Saat Corona mewabah, negara ini tampil sebagai penyelamat karena mampu mengirimkan tenaga medisnya ke negara terdampak lainnya seperti Italia. Sebelum adanya wabah Corona, negara ini pun sudah sering mengirimkan tenaga-tenaga medisnya ke negara lain, termasuk ke Indonesia pada saat Gempa Jogja tahun 2006. 

Bantuan tersebut memang sebanding dengan kondisi di dalam negerinya. Menurut data dari WHO dalam rmol.com, rasio jumlah dokter di Kuba adalah 82 dokter per 10 ribu orang. Angka tersebut melebihi rasio di AS, yaitu 26 dokter per 10 ribu orang. Selain itu, pusat pelayanan kesehatan disana juga dibuka secara gratis dan dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang canggih.

Tak hanya menang dalam jumlah, tenaga medis disana juga memiliki kemampuan yang handal karena sistem pendidikan disana yang begitu tertata. Seperti adanya program pendidikan gratis untuk seluruh rakyatnya, penayangan siaran edukasi hingga menguasai 60 % siaran TV disana, menggemakan slogan-slogan penyemangat belajar secara masif, hingga memberlakukan kelas-kelas intensif di sekolah dasar maupun menengah.

Semua program di atas terlaksana berkat seorang pemimpin revolusioner Kuba, Fidel Castro. Tak banyak yang tahu bahwa ia adalah anak dari seorang tuan tanah di Kuba, Angel Castro. Masa kecilnya pun dikelilingi oleh kecukupan dalam hidup.

Meskipun berlatar belakang keluarga kaya, tidaklah membuatnya berpuas diri. Saat SMA, ia sudah berani mengeksplor hal-hal baru dan mampu menunjukkan hasil yang bagus. Kiprahnya dalam politik dimulai saat ia kuliah di Universitas Havana dengan mengikuti unjuk rasa di negara-negara di luar Kuba, seperti Republik Dominika.

Sesudah lulus kuliah, dia pun berkarir menjadi pengacara dan sempat menuntut Batista di pengadilan karena melanggar konstitusi yang dia buat sendiri. Namun, tuntutan tersebut tertolak yang membuat Castro memilih jalur pemberontakan untuk menjatuhkan Batista. Pemberontakan tersebut gagal dan membuat dia dan teman-temannya divonis penjara selama 15 tahun pada tahun 1953.

Dan pada bulan Mei 1955, berkat permintaan dari parlemen, Batista memberikan amnesti kepada para tahanan politik, termasuk Castro. Namun, di bulan Juli 1955, Castro memilih untuk meninggalkan Kuba guna mempersiapkan perlawanan secara lebih matang. Ia pun berlabuh di Meksiko.

Di Meksiko, ia pun bertemu dengan Ernesto "Che" Guevara, seseorang yang kelak akan membantu  perjuangannya. Lalu, ia pulang bersama Che dan Raul, adiknya. Mereka berniat ingin menggulingkan Batista. Dalam upaya kudeta ini, mereka pun menerapkan taktik gerilya di Pegunungan Sierra Maestra.


Che Guevarra (kiri) dan Fidel Castro (kanan)


Pada akhirnya, Fidel Castro dan kawan-kawan berhasil menjatuhkan Batista pada tanggal 1 Januari 1959. Sejak saat itu, Fidel Castro menjadi pemimpin Kuba yang baru. Sementara itu, Che diangkat menjadi sebagai Menteri Departemen Industri, dan Pemimpin National Institute of Agrarain Reform di bulan Oktober 1959 dan kemudian diangkat menjadi Presiden Bank Nasional Kuba pada bulan November di tahun yang sama.

Namun, kebersamaan keduanya tidak bertahan lama. Dikarenakan keinginannya untuk melanjutkan perjuangan revolusi di negara lain, Che memutuskan untuk mundur dari jabatan dan kewarganegaraannya di Kuba melalui sebuah surat yang dibuatnya pada tahun 1965. 

Saat memimpin, Castro pun mengeluarkan kebijakan berupa nasionalisasi semua aset yang ada di Kuba, termasuk aset-aset dari perusahaan asing. Hal ini membuat AS marah akan kelakuan tetangganya tersebut. Sebelumnya, AS begitu dekat dengan Kuba saat pemerintahan Batista.

Pada masa kepemimpinannya, Castro menerapkan sistem otoriter. Segala macam kebijakan yang dikeluarkannya wajib untuk diikuti rakyatnya. Karena kebijakannya tersebut, banyak rakyat Kuba yang berlayar meninggalkan negerinya, termasuk anak kandung Castro. Namun, ia justru mempersilahkan mereka untuk pergi.

Di tahun 1991, Uni Soviet runtuh karena menguatnya semangat separatisme. Hal ini membuat Kuba goyah karena kebutuhan negara ini terpenuhi berkat pembelian gula yang dilakukan oleh Uni Soviet. Tak hanya itu, Uni Soviet juga siap membantu Kuba apabila diserang oleh negara lain. 

Namun, Castro berusaha agar negaranya bisa bangkit. Pada mulanya, Castro memutuskan untuk menghemat energi secara besar-besaran. 
Tak hanya itu, ia pun juga "melanjutkan kembali" program-program untuk meningkatkan kualitas negaranya, seperti kesehatan dan pendidikan gratis.

Mengapa ada kalimat "melanjutkan kembali"? Karena, Castro sudah merumuskan masalah-masalah yang akan diselesaikannya secara bertahap pada tahun 1953, seperti pendidikan, kesehatan, pengangguran, masalah tanah, industrialisasi, dan perumahan. Perlahan, semua masalah tersebut terselesaikan.

Tak hanya terselesaikan, tetapi juga menuai hasil-hasil yang mengagumkan. Pada peringkat negara-negara berdasarkan tingkat literasi menurut UNESCO, negara ini menduduki peringkat 7 dari 171 negara untuk kategori tingkat literasi dewasa, dan peringkat 6 dari 168 negara untuk kategori tingkat literasi remaja. Negara itu pun menjadi kiblat bagi para mahasiswa medis untuk melanjutkan pendidikannya karena majunya sarana medis disana. 

Pada tahun 2016, Fidel meninggal dunia akibat infeksi usus. Kepemimpinannya pun dilanjutkan oleh adiknya, Raul Castro. Namun, pada 19 April 2018, Raul digantikan oleh Miguel Diaz Canel. Hingga saat ini, Diaz Canel masih menjabat sebagai Presiden Kuba.



Referensi :

Buku "Fidel Castro Melawan" karya Imam Hidayah Usman




Buku "Rusia Baru Menuju Demokrasi" karya A. Fahrurodji













Komentar

  1. Kereeen sih tingkat literasi mereka bisa 10 besar duniaaaa :o. Indonesia aja terpuruk banget dari level literasi. Cuma baca judul trus lgs bikin hoax -_-

    Kuba ini salah satu negara yg udh masuk dalam listku. Semoga selesai pandemi bisa kesana :). Aku selalu tertarik Ama negara2 yang terkena US Sanction. Kayak Kuba, Korut, syiriah, Iran. Baru Korut sih yg aku datangin, Iran seharusnya THN lalu, tapi Krn pandemi masih reschedule trus Ampe skr. Tapi yg aku perhatiin dari negaa2 yg kena Sanction ini, mereka selain mandiri Krn ga dpt bantuan dari negara lain, orang2nya jauuuh LBH disiplin dan ramah. Kayak Korut, selama ini dibilang seram, apalah... Tapi setelah DTG melihat sendiri, negaranya LUAR BIASA BERSIH, dan orangnya ramah2 bangettttt. LBH ramah daripada Korsel. Kuba yg aku denger juga begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, mantap juga. Mungkin itu ibarat anak yang nggk dimanja yg menghasilkan seseorang yg mandiri. Semoga saya bisa ke negara-negara itu juga. Makasih atas komentarnya.

      Hapus

Posting Komentar