- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Suatu pagi, terlihat langit sedang mendung, tetapi tidak begitu kelam. Saya pun berangkat sekolah dengan persiapan lain, seperti payung, kantong sepatu, serta pakaian ganti.
"Semoga tidak lebat," kataku dalam hati.
Tiba-tiba, hujan pun turun dengan begitu lebat. Aku pun terus berlari supaya tidak terlalu kebasahan. Namun apadaya. Perjalananku terhalang oleh kemacetan yang mengular hingga berkilo-kilo meter. Jika pun aku meminta pertolongan kepada angin, mungkin ia akan menolong dengan badai yang kencang menuju sekolah. Namun apadaya. Badai tak bersahabat denganku.
Aku terlihat koyak dibuatnya. Hempasan kerikil telah menghajar raga yang lemah ini secara perlahan. Untunglah aku memakai baju bebas. Tekadlah yang mengantarku menuju gerbang sekolah. Liukan tubuh melewati rintangan menemani hingga sampai tujuan.
Sesampainya disana, kejanggalan pun terjadi. Sekolah terlihat seperti kota mati. Tak ada batang hidung seseorang pun. Hanya daun-daun berguguran yang berjalan kesana-kemari dengan semilir angin nan dingin. Aku pun berjalan perlahan hingga ke kelas nan sunyi.
Harapan itu terbuka. Sebuah kue ulang tahun di tangan temanku beserta warga sekolah.
"Selamat ulang tahun," ucap mereka semua.
Aku pun begitu terharu dibuatnya. Bersama dengan itu, cuaca pun menjadi cerah.
"Semoga tidak lebat," kataku dalam hati.
Tiba-tiba, hujan pun turun dengan begitu lebat. Aku pun terus berlari supaya tidak terlalu kebasahan. Namun apadaya. Perjalananku terhalang oleh kemacetan yang mengular hingga berkilo-kilo meter. Jika pun aku meminta pertolongan kepada angin, mungkin ia akan menolong dengan badai yang kencang menuju sekolah. Namun apadaya. Badai tak bersahabat denganku.
Aku terlihat koyak dibuatnya. Hempasan kerikil telah menghajar raga yang lemah ini secara perlahan. Untunglah aku memakai baju bebas. Tekadlah yang mengantarku menuju gerbang sekolah. Liukan tubuh melewati rintangan menemani hingga sampai tujuan.
Sesampainya disana, kejanggalan pun terjadi. Sekolah terlihat seperti kota mati. Tak ada batang hidung seseorang pun. Hanya daun-daun berguguran yang berjalan kesana-kemari dengan semilir angin nan dingin. Aku pun berjalan perlahan hingga ke kelas nan sunyi.
Harapan itu terbuka. Sebuah kue ulang tahun di tangan temanku beserta warga sekolah.
"Selamat ulang tahun," ucap mereka semua.
Aku pun begitu terharu dibuatnya. Bersama dengan itu, cuaca pun menjadi cerah.
Komentar
Posting Komentar