POM Bensin Pengisi Kemerdekaan

Puisi Karya Saya "Mutiara dari Stalin"



 Terpancar sang kumis.
Tebal merona kejantanan.
Bergetar hati rakyat yang memandangnya.
Terpancang pisau menghujam tak kasat mata.

Beraroma amis khas,
berjalan langkah tegap di tengah padang nan luas.
Menebar aromanya itu demi sebuah tujuan.
Terdengar gila berlapis bisu terlihat.

Sedari mekar-mekarnya,
terpampang sudah jiwa jalur lain.
Ia menempuh jalur yang tercium wewangian kesturi.
Terlebih diarahkan oleh seorang akademisi.

Berjalan hingga berlari,
ia pun mengikutinya.
Tetapi, caranya terlihat bergelombang.
Sang akademisi memaruh rasa curiga.

Hingga huru-hara menggaung.
Mengantarnya ke kursi singgahsana.
Bertahtakan haus akan ambisi.
Monster terlihat semakin menggila.

Walaupun terlihat menyeramkan,
tidak ada salahnya menyelami dadanya lebih dalam.
Api membara tertanam di dalamnya.
Satu visi menggantung demi kebenaran versinya.

Biarpun berbaju lusuh di perjalanan,
ia tetap lakoni.
Kurasan keringatnya dicicipi ketika mahkota terpampang.
Toga pun menjadi sampah.

Ia pun memasang perekat di mulutnya.
Membiarkan otak terkurung untuk bekerja.
Setelah keluar, mereka terbang bersama sekelompok tawon.
Mampu menyengat tanpa bulu.

Tak perlu stereotip.
Kesuksesan sudah terpampang.
Bahkan berasal dari kumis yang busuk itu.

Komentar