POM Bensin Pengisi Kemerdekaan

Organ Bercahaya Api

  Di suatu hari Minggu, James terlihat sedang duduk santai dengan secangkir kopi. Kenakalannya membuat dia terhambat untuk meraih sukses. Namun, ia berusaha untuk menghilangkan hal itu.



    Tiba-tiba, ia pun terbawa ke dalam pusaran yang membawanya ke suatu tempat yang asing baginya. Disana terdapat gunting dan pisau berlumuran darah beserta seseorang yang sedang dibuka bagian tubuhnya.

   "Hei. Sedang apa kau?" tanya seorang dokter dengan terheran.

   "Maafkan aku. Aku terdampar ke tempat ini," jelasnya.

   "Maksudmu? Tolong jangan mengarang cerita, ya. Sekarang kamu keluar dari sini! Kamu mengganggu kami bekerja!" kata sang dokter dengan nada emosi.

   Ia pun keluar dari tempat itu dengan tetap dalam kebingungan. Lalu, muncul seseorang berpakaian serba putih dan berjanggut putih.

  "Hahahaha... Hei, anak muda. Kau tahu mengapa kau terbawa ke tempat ini?" tanyanya.

   "Tidak tahu, Kek. Memang kenapa? Dan Kakek siapa?"

  "Nama saya Sir Jackger. Saya yang membawamu ke tempat ini karena saya sudah tahu karaktermu. Di tempat itu, tersimpan sebuah harta karun yang akan mengubah hidupmu menjadi lebih baik."

   "Ah. Kakek jangan mengarang cerita. Tempat itu begitu menyeramkan."

   "Hei. Jangan lihat luarnya. Benda itu terdapat di dalam salah satu organ tubuh seseorang. Percayalah, tidak akan menyeramkan jika kau mau."

   "Hmmm... Oke. Lantas, dengan kendaraan apa aku kesana?"

   Lalu, datanglah sebuah kendaraan yang mirip sepeda bernama "Telpor". James pun menaikinya dan terkejut melihat benda di sekitarnya lebih besar darinya. Telpor membawanya secara otomatis ke dalam tubuh orang tersebut melalui salah satu rongga tubuhnya.

    Hal tak terduga pun terjadi ketika berada di tengah perjalanan. Telpor mogok tanpa sebab.

   "Sial," keluhnya.

    "Hahaha... Kau tahu mengapa Telpor mati?" kata Sir Jackger yang muncul tiba-tiba.

    "Memang ada apa?"

    "Aku sengaja mematikan Telpor agar kau dapat lebih termotivasi dalam menyelesaikan petualangan ini. Menarik, bukan?"

    "Apanya yang menarik? Kau jahat!"

    Sir Jackger langsung pergi. Sementara, James mulai terlihat lesu. Tetapi, ia tetap memiliki rasa penasaran. Perjalanan pun dilanjutkan secara perlahan.

    Akhirnya, ia menemukan sebuah lubang besar nan bercahaya. James pun bersemangat untuk mendekatinya. Tetapi, lubang itu ternyata jalan keluar alternatif melalui rongga hidung.

    "Ah. Kenapa aku bernasib seperti ini?" keluhnya.

    Tanpa pikir panjang, ia pun turun dari Telpor dan kembali ke ukuran fisik semula secara otomatis dan pulang.

Keesokan harinya, ia pun memulai hari seperti biasanya. Kemacetan telah menjadi sarapan baginya setiap berangkat kerja.

    Sesampainya di kantor, ia kembali melakukan kesalahan.

   "Kau terlambat lagi! Sudah berapa kali saya peringatkan, tetapi masih tidak mempan! Kamu saya pecat!" bentak atasannya.

   "Ampun, Pak. Bapak tahu kan kenapa saya terlambat? Coba Bapak bernasib seperti saya."

    "Ah. Itu bukan alasan! Saya saja yang rumahnya lebih jauh dari kamu bisa datang lebih pagi. Terjebak macet juga lagi. Sudah! Keluar dari sini!"

   James pulang dengan kelesuan di wajah. Namun, hal itu belum selesai. Di rumah, terdapat pula suatu kejadian.

   "James. Kamu terlihat lesu. Ada apa?" tanya ibunya.

   "Tidak ada apa-apa, Bu," jawabnya seperti menyembunyikan sesuatu.

   "Sudahlah. Ibu sudah tahu kau dipecat. Ibu tahu dari bos kamu. Keluar kamu!" bentak ibunya.

   Ia  berjalan keluar rumah dengan wajah begitu lesu. HP-nya pun berdering.

   "Hei, Sayang. Kamu sudah dipecat? Aku tahu dari ibumu. Kasihan. Kita putus!" ucap pacarnya lewat messanger.

   Wajahnya pun semakin suram. Sampailah ia di sebuah gedung setinggi 20 meter dan ia hendak terjun dari atas sana.

   "Hei. Kau jangan nekat. Itu berbahaya. Kalau kau mempunyai masalah, janganlah berputus asa," ucap Sir Jackger dengan lirih. Sosoknya tiba-tiba muncul.

  "Ah, Kakek lagi. Mau apa Kakek kesini? Kakek jangan menipuku lagi!"

   "Hei. Siapa yang mau menipumu? Justru rentetan kejadian yang telah menimpamu itu karena perkataanmu serta perbuatanmu sendiri. Ingatlah. Kata-kata adalah doa!" ucap Sir Jackger dengan tegas.

    "Ah. Buang-buang waktu."

   Lalu, James pun terjun dengan bebasnya. Tetapi, ia berhasil selamat berkat pertolongan Sir Jackger, meskipun dalam keadaan pingsan.

   Beberapa jam kemudian, James pun tersadar.

   "Dimana aku?"

   "Syukurlah. Kau sedang berada di rumahku. Kau mengalami pingsan setelah terjun dari gedung tinggi," ujar Sir Jackger dengan tenang.

   "Terima kasih telah menolongku, Kek," ucap James.

   "Iya. Sama-sama. James, kau masih penasaran dengan harta karun itu?"

   "Masih. Memang kenapa?"

   "Nah. Saat kau sudah pulih, saya akan menyiapkan Telpor untukmu agar kau dapat melanjutkan petualanganmu itu. Kau mau?"

   "Tentu saja."

   Beberapa jam kemudian, datanglah Telpor dan membawa kembali James ke dalam rongga tubuh dari orang yang sama seperti sebelumnya. Kali ini, ia memiliki semangat yang berbeda dari sebelumnya.   
  
 Beberapa jam kemudian, ia menjumpai sebuah rongga bercahaya yang dipisahkan oleh sungai darah. 

 Setelah berusaha selama beberapa menit, ia pun berhasil mencapai rongga itu dan mendapatkan sebuah harta karun di dalamnya. Hatinya pun berbunga-bunga.

    "Bagaimana? Kau senang?" tanya Sir Jackger yang muncul tiba-tiba.

    "Tentu saja. Ini seperti mimpi!" jawabnya dengan penuh kegembiraan.

    "Tunggu efek dari harta itu," kata Sir Jackger.

    James pun mengiyakan saja seolah tidak peduli. Kejadian itu pun terjadi. Ia terbawa oleh arus waktu yang kencang.

   "Loh. Kenapa saya menjadi pengemis?" keluh James.

    "Itulah efeknya. Tunggu saja hasil yang sebenarnya," kata Sir Jackger.

    "Ah! Kurang ajar, kau! Kau menipuku!" kesal James.

   "Hmmm... Sepertinya, kau kembali melampaui batas," kata Sir Jackger.

   Ucapan Sir Jackger itu membuat James geram dan akhirnya membunuh Pak Tua itu. Mayatnya kemudian dibuang ke tempat yang tidak diketahui banyak orang.

    Setelah itu, ia kembali menghabiskan hari seperti biasa, yakni mengemis. Tiba-tiba, seseorang datang dengan wajah meyakinkan.

   "Hei. Kau kah yang telah mendonorkan ginjal untukku? tanyanya.

   "Hei, Bung. Janganlah kau mengigau di siang bolong. Aku tidak mengenal kau," jawab James.

    "Benar. Kau lah yang telah melakukannya," tegas orang itu.

    "Kau keras kepala. Pergi!" kata James bernada kesal.

     Orang itu pun pergi dengan penuh keheranan. James kembali mengemis hingga petang.

   Selang beberapa minggu, sekelompok polisi datang membawa hasil investigasi pembunuhan terhadap Sir Jackger. Ia pun dipenjara selama empat tahun.

    Namun, beberapa bulan kemudian, datanglah seseorang yang mencabut perkara dirinya. Dia adalah orang "aneh" yang pernah mendatanginya.

   "Aku melakukan ini karena aku tetap yakin bahwa kau adalah penyelamat hidupku," katanya.

   "Hei. Anda sepertinya salah orang. Aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya. Sebelumnya, aku berterima kasih atas kebaikanmu," kata James.

   "Sama-sama. Sepertinya, kau belum mengenal diriku yang sesungguhnya," katanya.

   Orang itu pun merubah wujudnya menjadi sesosok hantu yang ternyata adalah hantu Sir Jackger.

   "Kakek? Maafkan atas semua kelancanganku," ucapnya sambil bertekuk lutut.

   "Tidak apa-apa, Nak. Kau tahu mengapa aku merubah wujudku? Karena aku telah mengetahui kisah yang sebenarnya," kata hantu Sir Jackger.

    "Memang kisah yang sebenarnya seperti apa?" tanyanya.

    Hantu Sir Jackger pun mengajaknya ke suatu tempat.

   "Ini makam siapa?"

   "Ini adalah makam Jhon. Ia wafat pada usia 90 tahun. Jhon bisa panjang umur karena ginjal dari Kevin. Berkat kebaikannya, Kevin pun diangkat derajatnya oleh Jhon hingga memiliki titel CEO di perusahaannya. 

Namun Kevin mengalami kecelakaan yang telah merenggut nyawanya. Jhon pun sedih dibuatnya. 

Ketahuilah, tubuh yang kau kunjungi sebelumnya itu adalah tubuh Kevin yang sedang sekarat. Harta karun yang kau dapatkan itu adalah serpihan kisah-kisah Kevin yang tersimpan di bagian dalam otaknya. Dengan membuka harta Karun tersebut, maka kau akan memiliki kisah yang sama seperti Kevin. Namun, karakter aslimu tidak akan berubah," jelas hantu Sir Jackger."

   "Ya Tuhan. Kisah yang begitu menyentuh," kata James sembari menangis.


    Lalu, James menabur bunga di atas makam keduanya yang berdekatan. Ia pun bertekad untuk menjalankan hidup yang sudah digariskan Tuhan melalui perantara harta karun itu.

    Sepuluh tahun kemudian, ia pun berhasil menduduki jabatan yang sama seperti Kevin di perusahaan tempat Kevin bekerja.

   

 

 

   



Komentar