- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bilakah deru kesibukkan merajai.
Konser tercipta beriring amarah.Panggung hiburan berjalan di atas kejenuhan.
Akankah terulang kembali?
Ingin ku merasakan,
inderawi tajam menusuk tulang rawan.
Menyejukkan sampai ke sanubari.
Tanpa tercampur huru-hara.
Semilir angin pagi sampai malam.
Menemani derap langkah nan mendayu.
Ketika terhenti,
mereka setia mengawal raga yang termakan aktivitas ini.
Gemercik air pun mengiringi.
Berulang-ulang seperti terdorong menantang udara.
Oleh tangan-tangan berdosa nihil.
Dengan suasana pikiran yang belum teroplos.
Indahnya alam tersebut,
sepertinya hanya waktu yang dapat menarikku.
Kembali berkaos oblong beralas kaki tanah.
Bermain dengan cangkul dengan tanaman bertimbal balik.
Masih berlangsung,
deru mesin knalpot beriring klakson berbunyi.
Memecahkan jiwa secara perlahan.
Aku masih merasakan karena terjebak oleh masa.
Suatu waktu terdapat tas ransel dan sandal merajalela.
Beriring tas koper dan kaos oblong.
Namun apadaya,
aku masih dalam masa tahanan.
Aku pun memasang lengan baju.
Menghadap atasan dengan kepala dingin.
Meminta hak sebagai manusia biasa.
Karena ku yakin, seburuk apapun yang diputuskannya, maka hal itu sebenarnya adalah bumerang.
Beberapa saat kemudian,
ketuk palu pun terdengar.
Aku harus langkahkan kaki.
Pesangon pun tergenggam.
Loyalitas dan absensi terngiang di pikirannya, padahal ia hanyalah manusia.
Kataku dalam sukma,
"Oke. Mungkin inilah yang terbaik."
Segenggam bekal di tangan dan segendong bawaan plus orang tersayang.
Aku pun meluncur ke lapangan.
Berharap segenggam emas kuraih.
Haah....Aku senang.
Bebanku selama ini sudah dilepaskan oleh pengawalku yang tak kasat mata.
Anak istri terhanyut dalam syahdunya.
Gemercik air beriring canda tawa.
Sungguh sukma ini seperti terisi air sejuk pegunungan.
Di balik air tersebut,
rupanya terdapat secuil api.
Api tersebut mendorongku melalui otak kanan.
Alam serta isi kampung pun mendukung.
Aku kerahkan tenaga dari fajar menyingsing hingga mega merah.
Tenaga yang terkontaminasi rasa dari otak dan sukma.
Aku pun tak hanya bertangan dua, melainkan seribu.
Lampu bohlam itu perlahan kian benderang.
Akhirnya,
proyekku dapat terselesaikan.
Mesin penghidup sumber penghidupan disana.
Buah dari mengalirnya inspirasi alam.
Rupiah pun kini mengalir.
Bukan hanya ke kantongku,
tetapi juga ke kantong seluruh warga sekitarku.
Kini ku dapat merasakan,
arti kedamaian yang hakiki.
Komentar
Posting Komentar