- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Suatu hari yang sunyi ditemani secangkir teh. Dilepaskannya beban di hari-hari yang dilalui. Sekolah dari pagi sampai sore. Ari pun tak akan melupakan cita-citanya, yaitu menjadi seorang teknisi sukses. Dia memilih cita-cita tersebut karena ingin merasakan kesuksesan dengan apa yang ia sukai. Cita-cita yang besar untuk seorang anak tanpa kehadiran orang tua.
Pada suatu pagi, Ari memulai pagi seperti biasanya. Sholat Subuh, mandi pagi, sarapan, hingga berangkat ke sekolah bersama sahabatnya, Adi. Dia memiliki cita-cita yang sama dengannya dan juga memiliki nasib yang sama dengannya. Mereka pun sudah terikat janji sejak kecil untuk selalu bersama mengarungi hidup hingga tua.
Suatu hari, mereka terheran dengan suasana sekolah yang tampak berbeda dari biasanya. Mereka pun bertemu dengan seorang petugas kebersihan dan bertanya kepadanya
“Kok, tumben sih. Kelas masih sepi. Kenapa, ya?” tanya Ari kepada seorang petugas kebersihan.
“ Iya, nih. Kenapa ya, Mas?” tegas Adi.
“Hari ini sekolah diliburkan karena sekolah sedang tertimpa musibah, De,” jawabnya dengan hati tenang.
“Ada musibah? Musibah apa, Mas?” tanya Ari dengan jantung berdebar.
“Pak Bandri meninggal dunia,” jawabnya.
Mereka pun masih terheran dengan apa yang terjadi. Karena, semua guru tampak sehat walafiat di hari sebelumnya. Terlebih, yang meninggal adalah sang kepala sekolah. Seketika itu, mereka pun langsung ke rumah duka yang dekat dengan sekolah.
Sesampainya disana, mereka pun larut dalam suasana haru membiru. Lautan air mata tercipta dari para guru dan murid sekolahnya. Lantunan doa pun tak kalah bergema. Karangan bunga dari berbagai kalangan pun menghiasi rumah duka.
Memang, Pak Bandri dikenal sebagai pribadi yang santun dan dermawan. Sebagai bukti, beliau pernah memberi Ari sepasang seragam. Karena sifatnya tersebut, beliau memiliki jaringan pertemanan yang luas karena banyaknya karangan bunga untuknya. Kepergiannya pun terkesan mendadak.
Sepeninggal beliau, akhlaknya mereka jadikan inspirasi ke depannya. Bukti kesuksesannya dijadikan patokan, meskipun beliau berkarir di tempat yang tak semestinya bagi orang sukses. Namun, beliau memanglah berhati dingin dan tetap menggenggam bara api semangat.
Keesokan harinya, sekolah pun memulai aktivitas kembali. Tetapi, kegiatan dimulai dengan upacara bendera setengah tiang. Hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan terakhir kepada Pak Bandri. Sungguh sebuah upacara yang khidmat dan tepat sasaran.
Hari demi hari pun berlalu. Tak terasa, kini saatnya mereka akan melangkahkan kaki menuju masa depan. Sudah terpampang pengumuman kelulusan. Rencana sudah dirancang plus dilapisi tawakal kepada Allah.
Rencana pertama pun dilaksanakan. Mereka mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri dengan persiapan yang cukup matang.
Hari demi hari penantian, akhirnya kunjung tiba. Pengumuman sampai ke tangan mereka via surat. Ternyata, takdir belum berpihak kepada mereka. Tetapi, mereka tetap yakin kalau Allah punya rencana alternatif yang indah.
Setelah itu, mereka memulai rencana yang kedua dengan membuat surat lamaran pekerjaan ke tempat las dan bengkel di dekat kampung mereka milik Pak Rudi. Rupanya, beliau tertarik dengan mereka. Sehingga, mereka pun langsung mengenakan seragam teknisi, meskipun kemampuannya masih terus dibina.
Setelah sekian lama bekerja, rupanya Pak Rudi sudah tak sanggup lagi membayar sewa tempat kiosnya karena sepinya pelanggan. Sehingga, Pak Rudi memutuskan untuk pindah ke sekitar Jakarta karena ia sudah menemukan sebuah kios kosong disana milik temannya dengan harga lebih murah. Tempat tersebut terletak di daerah Tangerang bagian selatan.
Setelah pindah, Ari, Adi, Pak Rudi, bersama crew yang lain pun memulai lembaran baru dengan bekerja di tempat yang jauh dari orang tercinta, dan mulai bercengkerama dengan daerah baru berbekal adaptasi sekedarnya. Rupanya, hal ini dijadikan sebagai senjata untuk mendekati calon pelangggan disana.
“Ayo, Bu. Perabotan rusak sampai TV rusak, datang ke kami,” teriak salah satu teman mereka dengan semangat.
Seketika itu, pembeli pun berduyun-duyun datang. Keuntungan pun terus mengalir bagai aliran sungai dari hulu. Memang tidaklah sia-sia menggunakan taktik bunglon. Pintar berkamuflase dengan lingkungan sekitar demi keuntungan bagi dirinya.
Tetapi, keesokan harinya terjadi hal yang terduga.
“Kok, gelap sih? Peralatan juga ikut mati. Ada apa ini? ” tanya Ari dengan heran.
“Iya, ya. Ada apa ini? Perasaan kemarin saya sudah membayar tagihan listrik. Kalaupun korsleting, jumlah daya yang dipakai saya pikir kecil. Kan, peralatan-peralatan ini memakan dayanya juga kecil,” jelas Pak Rudi dengan herannya.
Melihat hal ini, Pak Rudi segera menelpon PLN terdekat.
“Gimana? Ada masalah?” tanya Pak Rudi dengan cemas.
“Wah. Ini sih aliran listriknya diputus. Kita perbaiki ya, Pak,” jawab petugas itu dengan tenang.
Akhirnya, aliran listriknya pun telah diperbaiki. Namun, Adi masih berpikir siapa yang tega memutus aliran listriknya. Hasilnya, ia pun berkesimpulan bahwa yang memutus aliran listriknya adalah tetangga sebelah yang juga seorang teknisi. Sejak awal, dia sudah melihat gelagat aneh dari orang tersebut.
Tetapi, beberapa saat kemudian, orang yang Adi sangkakan itu telah tertangkap basah oleh polisi. Rupanya, polisi telah mengetahui yang sebenarnya dari salah satu pelanggan setia mereka. Rupanya, sang pelapor itu juga terkesan akan hasil pekerjaan Ari dan Adi.
“Nak, kalian sungguh bagus kerjanya. Perkakas di rumah saya sudah berfungsi kembali. Beda sekali dengan bapak itu (sambil menunjuk ke arah tersangka). Kalian juga saya lihat sering memperbaiki perkakas warga sini secara sukarela dan kalian terlihat begitu kompak. Sebagai penghargaan, saya mau menawari kalian sebuah pekerjaan. Tetapi, kalian akan bekerja di Tokyo dan akan berangkat sebulan kemudian karena kalian akan mengikuti kursus bahasa Jepang terlebih dahulu. Ini kartu pengenalku,” katanya sambil tersenyum.
Setelah Ari menerimanya, mereka seperti tertiban durian runtuh. Adi masih terheran dengan perkataannya itu. Di kartu pengenalnya tertulis namanya, Irfan Putra Ardiansyah, S.E.
“Aduh. Terima kasih, Om. Semoga kebaikan Om dibalas Allah,” jawab Ari dengan gugup.
“Aamiin. Tolong diterima dengan, baik, ya,” ujarnya.
“Siap, Om,” jawab mereka.
“Bro. Selamat ya.” Crew yang lain pun turut senang atas apa yang telah mereka raih saat ini. Pak Rudi pun turut serta mendoakan.
Selang sebulan kemudian, mereka kemas barang-barang berlapis doa dari orang-orang yang pernah menghiasi hidup mereka. Mereka jejaki tanah para samurai dengan penuh keyakinan.Adi pun mencari alamat tempat mereka akan bekerja. Kemampuan bahasa Jepang mereka pun sudah cukup bagus berkat kursus yang mereka ikuti.
Akhirnya, mereka memulai hari dengan menyiapkan peralatan khas teknisi nan rumit hingga sore hari. Hari libur mereka seperti pekerja pada umumnya, Sabtu dan Minggu. Saat libur, mereka manfaatkan untuk menikmati suasana Negeri Matahari Terbit ini. Selang berapa hari kemudian, mereka mendapat telepon dari seseorang. Rupanya dari Pak Irfan.
“Halo. Apa kabar kalian disana?” tanya dia.
“Alhamdulillah. Baik, Om. Ada apa, ya?” jawab Ari dengan senangnya.
“Begini, kan kalian sudah bekerja di Tokyo. Nah, sekarang ada lagi hadiah buat kalian,” seru Pak Irfan dengan senang.
“Apa itu?” tanya Adi.
“Begini. Saya punya beasiswa kuliah S1 khusus untuk dua orang ke Kyoto. Kalian mau kan terima tawaran saya?” ujarnya meyakinkan.
“Mau mau, Om! Kami mau!” jawab mereka dengan semangat.
“Oke. Segera urus surat-surat pentingnya ya dan ikuti aturannya dengan baik. Saya akan kesana seminggu lagi. Tunggu, ya,” kata Pak Irfan.
“Siap!” jawab mereka bersemangat.
Mereka pun antusias mendengar kabar itu dengan langsung menyiapkan segala macam keperluannya. Setelah seminggu menunggu, Pak Irfan pun datang dan segera membantu mereka. Selang berapa lama, mereka pun diterima menjadi mahasiswa di Universitas Kyoto. Rasanya seperti mimpi. Mereka bertiga pun tinggal di kost dekat kampus tersebut.
Tiba-tiba di suatu waktu, telepon Pak Irfan pun berdering.
“Hei, kamu. Kamu jangan sok baik!. Memberikan kepada mereka macam-macam. Kami belum mendapatkan apapun karena yayasan yang bekerja sama dengan perusahaan kita itu pun belum mendatangkan profit buat kita. Dari awal saya sudah berpikir begitu. Saya setuju dengan kerja sama itu sebenarnya karena rayuan maut mereka yang menjanjikan keuntungan tinggi!” ucap seseorang dari teleponnya yang diketahui adalah atasannya.
“Bos. Sebagai makhluk sosial, kita seharusnya banyak berbagi kepada orang lain. Siapa tahu, ada keuntungannya untuk kita, bahkan bisa berlipat,” ujarnya dengan tenang.
“Hei. Kamu itu bantu mereka pakai dana dari perusahaanku juga. Lama-lama perusahaanku bisa gulung tikar gara-gara kamu! Paham kamu!” bentak bosnya.
“Kok Bos jadi marah-marah gitu? Bos, keuntungannya tidak sekarang, tetapi nanti. Yang penting kita pasrah saja terus.” Pak Irfan terus mnghadapinya dengan tenang.
“Terserah! Kamu itu kepala batu, ya! Saya mau kesana! Tunggu!” ancam atasannya itu.
Telepon pun langsung mati. Tentunya perasaan cemas pun menghantuinya. Ia takut kalaui nantinya ia tak bisa membantu Ari dan Adi. Ia pun mencoba untuk menutupi kabar ini kepada mereka.
“Ada apa, Om?” tanya Ari.
“Tidak ada apa-apa, kok. Sudah. Kamu tidur lagi aja.” Dengan ketenangan hati, Pak Irfan hadapi mereka.
Keesokan harinya, Adi pun melihat gelagat aneh dari “bapak angkatnya” itu. Ia seperti gelisah tak karuan. Tak hanya itu, setiap hari, Adi sering melihatnya murung dan menyendiri di samping rumah kost. Melihat hal ini, timbul perasaan tidak baik dalam hatinya.
Besoknya lagi, ia pun pergi ke Bandara Tokyo. Keberangkatannya kesana tentunya tanpa sepengetahuan Adi dan Ari karena dia berangkat saat mereka sedang kuliah.
Sesampainya disana, ia disambut seperti mangsa yang siap diterkam oleh atasannya.
“Hei. Kamu itu seperti tikus, ya! Menggerogoti uang perusahaan demi kepentingan kamu!” bentaknya.
“Bos, kan sudah saya bilang. Kalau mau melihat untungnya dari kegiatan saya ini, tunggu saja.” Pak Irfan berusaha untuk menenangkan atasannya itu.
“Halah, menunggu. Sampai kapan? Saya kesini sebenarnya saya mau membawa ini, surat pemecatan kamu! Kamu tidak lagi bekerja disini! Saya pamit!”
Seketika itu, dunia serasa runtuh bagi Pak Irfan. Ia bingung harus dengan biaya dari mana lagi agar Ari dan Adi dapat bertahan hidup di negeri orang ini. Air mata pun mengalir darinya di perjalanan pulang.
“Kenapa, Om?” tanya Adi dan Ari terheran.
“Saya tadi ketemu dengan atasan saya, katanya saya dipecat dari perusahaannya. Jadi, saya tidak bekerja lagi,” katanya sembari sedih.
Melihat hal ini, mereka pun turut sedih. Demi sesuap nasi, mereka bingung harus kemana lagi mencarinya. Akhirnya, mereka pun mencoba untuk mencari pekerjaan, walaupun sekecil apapun. Hasilnya, Ari pun mendapatkan pekerjaan menjadi tukang cuci piring. Sedangkan Adi dan Pak Irfan masih mencari.
Hingga suatu saat, pihak yayasan pun menelponnya.
“Halo. Dengan Pak Irfan?” tanya sang penelpon.
“Iya. Saya sendiri. Ada apa, Pak?” jawabnya.
“Saya dengar Bapak baru saja dipecat, ya?” lanjut sang penelpon
“Iya. Memang ada apa?” tanya pak Irfan dengan heran.
“Begini. Kami sebenarnya sudah tahu maksud dari atasan Bapak dalam ikatan kerjasama dengan perusahaannya. Ada seorang bawahan Bapak yang memberi tahu hal ini. Jadi, kami putuskan untuk menghentikan kerjasama dengannya dan kami akan bekerja sama dengan Bapak secara personal. Jadi, apapun yang Bapak perlukan demi kebaikan kedua anak itu, kami akan urus semuanya. Bapak setuju?” lanjut sang penelpon dengan meyakinkan.
“Wah. Saya setuju sekali. Terima kasih banyak, Pak,” jawab Pak Irfan dengan antusias.
“Iya. Sama-sama.”
Hati Pak Irfan senang atas rahmat-Nya ini. Ia pun segera memberi tahu Adi dan Ari.
Tak ayal, mereka pun senang dibuatnya. Mereka pun berjanji akan menyelesaikan pendidikan mereka hingga baju toga dikenakan.
Hari demi hari telah berlalu. Hingga tak terasa Adi dan Ari lulus dengan predikat cumlaude. Tentu saja, Pak Irfan pun bangga dibuatnya. Dalam hati mereka pun terbesit cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Pak Irfan pun mencoba untuk mewujudkannya. Akhirnya, setelah mengkonfirmasi dengan pihak yayasan, akhirnya mereka pun dapat melanjutkan pendidikan ke Inggris.
Setelah 3 tahun kuliah disana, mereka pun pulang ke tanah air. Mereka pun langsung diserbu perusahaan besar ketika melamar kerja. Akhirnya, mereka pun bekerja di sebuah petrusahaan industri ternama dengan posisi sebagai freelancer technical.
Komentar
Posting Komentar